Lakalantas

11 Nyawa Melayang di Tempat Kejadian Akibat Truk Batu Bara

Polemik angkutan batu bara terus menjadi permasalahan di kalangan masyarakat, tercatat 11 nyawa melayang sepanjang tahun 2018.

11 Nyawa Melayang di Tempat Kejadian Akibat Truk Batu Bara
tribunjambi/abdullah usman
Warga dan aparat berkerumun di lokasi kecelakaan maut di Jalan Lintas Muara - Bulian. Satu unit truk bermuatan batu bara mencoba menyelamatkan diri dari warga saat tengah mencoba melintas, nyaris diamuk massa dan dibakar, Senin (8/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribunjambi.com Abdullah Usman

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Polemik angkutan batu bara terus menjadi permasalahan di kalangan masyarakat, tercatat 11 nyawa melayang sepanjang tahun 2018. Pengangkangan aturan menjadi salah satu penyebab insiden serupa terus kembali terjadi.

Tokoh Masyarakat Kawasan Muara Bulian Fahri, mengungkapkan, meningkatnya kecelakaan yang diakibatkan truk batu bara tersebut sangat terlihat sepanjang tahun 2018. Masyarakat seakan merasa dihantui ketika berkendara dan melintas di jalanan jika harus berpapasan maupun beriringan dengan rombongan truk batu bara tersebut.

Baca: Perumahan Nelayan di Tanjabtim yang Awalnya Kusam Berubah Berwarna-warni

Menurutnya batu bara tersebut hanya untuk kepentingan para kaum kapitalisme atau kaum pemodal saja. Sehingga keberadaan dan usaha mereka hanya menguntungkan bagi kalangan mereka saja.

"Selain itu, lebih banyak mudharat daripada manfaat bagi masyarakat itu sendiri. Terlebih dari dampak negatif yang diakibatkan angkutan tersebut satu diantaranya adalah kecelakaan, sudah berapa korban nyawa menghilang akibat kecelakaan tersebut," Jelasnya.

Menurutnya, saat ini para angkutan batubara mulai main semena-mena dan segala tipu daya untuk mengelabui petugas dan mengangkakangi aturan. "Seperti dari segi angkutan saat ini banyak angkutan batu bara yang menggunakan kendaraan tronton yang sudah jelas dilarang sesuai aturan yang berlaku." ujarnya.

"Maunya masyarakat tidak ada solusi lain selain membuat jalur sendiri, terutama jalur air. Jika tidak tentu korban jiwa akn terus berjatuhan dan lebih banyak masyarakat menyelesaikan dengan cara masyarakat itu sendiri sebagai bentuk efek jera dan shcok terapi bagi angkutan batu bara tersebut," ujarnya.

Baca: Antusias Warga Luar Biasa, Desember Haris Undang Ustaz Abdul Somad Lagi

Baca: Hujan Deras, Lokasi Tabligh Akbar Ustaz Abdul Somad Pindah

Berdasarkan data Satlantas Polres Batanghari, terhitung Januari hingga awal Oktober 2018 sudah terdapat 20 kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk angkutan batu bara.

"Yang terlibat kecelakaan dengan truk angkutan batu bara tersebut mayoritas pengendara roda dua," kata Kasat Lantas Polres Batanghari AKP Nafrizal. Dari 20 kasus kecelakaan lalu lintas tersebut, 11 orang diantaranya meninggal dunia. Dan sebagian besar korban yang terlibat kecelakaan tersebut meninggal dunia di lokasi kejadian.

Nefrizal mengatakan, lakalantas tersebut sebagian besar di sebabkan kelalaian sopir truk angkutan batu bara. Namun juga ada kecelakaan yang di sebabkan oleh kelalaian pengendara lainnya.

"Kecelakaan tersebut banyak terjadi pada jalur yang dilewati oleh truk angkutan batubara, terutama di jalan lintas dan jalan nasional," ujarnya.

Sebagian besar kecelakaan tersebut terjadi di Kecamatan Muarabulian, Pemayung, Muara Tembesi dan Kecamatan Batin XXIV.

Baca: Warga Kecewa, Panitia tak Sediakan Infocus pada Tabligh Akbar Ustaz Abdul Somad

Baca: Siang, Kantor DLH Sudah Tutup

Baca: Oknum Polisi Diduga Selingkuhi Istri Kades di Bungo, saat Suami Pergi ke Kebun

Penulis: Abdullah Usman
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved