Zaman Ahok Lantang Mengkritik, Kini Ratna Sarumpaet Difasilitasi Pemprov DKI, Anies Ungkap Alasannya

Zaman Ahok Lantang Mengkritik, Kini Ratna Sarumpaet Difasilitasi Pemprov DKI, Anies Baswedan Ungkap Alasannya

Zaman Ahok Lantang Mengkritik, Kini Ratna Sarumpaet Difasilitasi Pemprov DKI, Anies Ungkap Alasannya
Kolase
Ahok, Ratna Sarumpaet, Anies Baswedan 

Dirinya, lanjut Asiantoro, kemudian mendisposisikan surat tersebut ke Bidang Nilai Sejarah dan Budaya. Kemudian ditindaklanjuti dengan membuat nota dinas ke Biro Administrasi Sekretariat Daerah (ASD) dikarenakan biaya perjalanan dinas merupakan tupoksi Biro ASD.

“Dinas Parbud melakukan pengaturan perjalanan Ratna Sarumpaet sekaligus membantu berkoordinasi dengan pihak panitia Woman Playwrights International. Dan dijadwalkan bu Ratna akan tampil di opening tanggal 7 Oktober 2018,” terangnya.

Baca: Grup Facebook Siswa SMP dan SMA Penyuka Sesama Jenis Hebohkan Garut, Posting Gambar Tak Pantas

Nama Ratna sendiri sudah tercantum di Instagram Women Playrights International (WPI) yakni di instagram.com/wpichile2018.

Pada postingan tanggal 10 April 2018, nama Ratna sudah termasuk dalam salah satu pembicara di konferensi tersebut.

Tak Perlu Dikembalikan

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jakarta Asiantoro mengatakan, uang sebesar Rp 70 juta yang sudah diberikan Pemprov DKI kepada Ratna Sarumpaet, tak perlu dikembalikan.

Awalnya uang tersebut diberikan untuk memfasilitasi Ratna Sarumpaet menghadiri '11th Women Playwrights International Conference' di Santiago, Cile, 7-12 Oktober 2018.

Asiantoro menjelaskan, uang tak diminta kembali, lantaran batalnya keberangkatan Ratna Sarumpaet ke Cile karena hal tak terduga.

"Iya kan ini kan enggak sengaja, engak boleh berangakat karena ada penyelidikan hukum. (Uang) itu enggak dibalikin. Ini dianggap force majeure," kata Asiantoro saat dikonfirmasi, Jumat (5/10/2018).

Baca: Ratna Sarumpaet Minta Maaf, Mahfud MD: Oh Tidak Bisa Dong

Ia pun merincikan bahwa uang Rp 70 juta diberikan untuk membeli tiket pulang pergi, akomodasi, dan biaya penginapan selama tujuh hari.

"Maksimal tujuh hari, tapi kalau dia mau stay beberapa hari ya silakan saja, itu urusan dia. Kita tetap ketentuannya tujuh hari," jelasnya.

Ratna Sarumpaet melayangkan surat permohonan bantuan sponsor kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, pada 31 Januari 2018, dan baru disetujui pada 19 Februari 2018.

Ratna Sarumpaet batal ke Cile karena diciduk polisi di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (4/10/2018) malam, lantaran takut melarikan diri dari kasus penyebaran berita bohong.

Ratna Sarumpaet mengaku dianiaya oleh sekelompok orang tak dikenal di Bandung, Jawa Barat. Padahal, ia menjalankan operasi plastik di RS Bina Estetika di Jakarta Selatan, dengan biaya mencapai Rp 90 juta.

Ditagih Pemprov DKI

Karena dia tidak jadi berangkat ke Cile, maka dana sponsor dari Pemprov DKI Jakarta harus dikembalikan.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Biro Kepala Daerah dan Kerja Sama Luar Negeri DKI Jakarta, Muhammad Mawardi.

"Kalau tidak jadi berangkat, harus dikembalikan. Mungkin ada yang telah dipakai, misalnya dia sudah beli tiket, kan nanti ada hitung-hitungannya," ujar Muhammad Mawardi saat dihubungi kompas.com pada Jumat (5/10/2018).

Melansir dari kompas.com, Muhammad Mawardi mengatakan bahwa Biro Administrasi Sekretariat Daerah DKI akan menghitung berapa dana yang harus dikembalikan Ratna Sarumpaet.

Baca: Ketika Opening Ceremony Asian Para Games 2018 Memberikan Banyak Pesan Menyentuh

Baca: Asian Para Games 2018 Hari Pertama, 5 Pertandingan Dimenangkan Atlet Indonesia

Mereka akan membahas juga apakah ada pembatalan tiket kepulangan Ratna Sarumpaet dari Cile yang sudah dipesan.

"Kan ada (uang) dari airline-nya ketika ada pembatalan. Tergantung airline-nya, kapan akan mengembalikan uang itu," ujar Muhammad Mawardi.

Meski belum sempat melaksanakan kegiatannya di Cile, Muhammad Mawardi mengatakan bahwa Ratna Sarumpaet harus tetap membuat laporan pertanggungjawaban terhadap dana yang sudah diterimanya.

"Nanti pasti sehubungan dengan misalnya dia tidak jadi berangkat, maka akan memberikan laporan bahwa tidak jadi berangkat karena suatu hal dan proses lebih lanjut ditangani oleh Biro Administrasi," ujar Mawardi.

Kronologi Penangkapan

Seperti diketahui, aktivis Ratna Sarumpaet ditangkap polisi di Bandara Soekarno Hatta, Kamis (4/10/2018) malam.

Dikutip Tribunnews.com dari wawancara TVOne, Ratna Sarumpaet membenarkan hal itu.

Saat ini, ia sedang dalam mobil polisi yang membawanya dari Bandara Soekarno Hatta ke Polda Metro Jaya.

Ratna menyatakan saat ini status dirinya sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi.

"Mereka sudah bawa surat penangkapan saya dan status saya sudah tersangka."

"Ini aneh bagi saya karena tadi pagi saya baru mendapat surat panggilan pemeriksaan," katanya.

Karena mendapat surat panggilan pemeriksaan itu, Ratna kemudian berkoordinasi dengan pengacaranya agar pemeriksaan dijadwalkan ulang karena ia harus pergi ke Cile.

Namun, malam ini ia sudah berstatus tersangka.

Ratna Sarumpaet mengaku ditangkap saat hendak terbang ke Cile untuk menghadiri konferensi internasional penulis wanita.

Saat itu, ia sudah berada di dalam pesawat.

Tiba-tiba, petugas imigrasi datang dan memintanya keluar dari pesawat.

Ia kemudian bertemu dengan polisi yang mengaku mendapat perintah dari atasan dan melarang Ratna meninggalkan tanah air.

Bantah Melarikan Diri

Kuasa hukum tersangka kasus penyebaran berita bohong Ratna Sarumpaet, yakni Insank Nasaruddin, membantah kliennya berniat melarikan diri dari jerat hukum.

Insank mengatakan, kliennya tidak mengetahui bahwa dia dicekal untuk keluar negeri. Bahkan, keberangkatan Ratna menuju Chile telah direncanakan jauh hari sebelumnya.

"Oh dia (Ratna, - red) belum tahu (akan dicekal). Pemberangkatan luar negeri ini memang sudah direncanakan jauh-jauh hari," ujar Insank, di Jalan Jalan Kampung Melayu Kecil V Nomor 24, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (5/10/2018).

Ia pun menjelaskan bahwa Kamis (4/10/2018) siang, Ratna baru menerima surat panggilan sebagai saksi. Yang kemudian dilanjutkan lagi dengan menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP).

"Makanya ibu karena ini undangan juga dan ini sudah lama diagendakan, makanya ibu bergegas untuk berangkat. Tapi bukan dalam hal ini ibu akan melarikan diri dan sebagainya," bantah dia.

Baca: Ga Nyangka Hingga Menangis, Bocah Indonesia Korban Tsunami Palu Bicara dengan Penyerang Man City

Lebih lanjut, ia mengatakan dirinya sebagai kuasa hukum ibunda Atiqah Hasiholan itu telah berkomunikasi kepada pihak kepolisian pada Kamis siang.

Komunikasi tersebut terkait bahwa pihaknya akan melakukan pengunduran waktu apabila dipanggil sebagai saksi, lantaran Ratna bertolak ke luar negeri.

"Kami juga sebagai kuasa hukum tadi siang sudah berkomunikasi bahwa tanggal 8 akan dilakukan pemanggilan itu, kami akan melakukan pengunduran waktu," jelasnya.

"Karena mengingat seandainya ibu berada di luar negeri kami akan minta pengunduran waktu. Tapi pada prinsipnya kami akan hadapi," imbuh dia.

Penyebab Ratna Tak Suka Ahok

Menurut Ratna dua kasus itu turut menjerat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok.

Ratna Sarumpaet juga menolak rencana Pemprov DKI menggusur permukiman warga di sekitar Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara.

Dia mengkritik langkah Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, yang tak henti-hentinya melakukan penggusuran.

Ratna juga menuding penggusuran Ahok tersebut kental dengan kepentingan bisnis para cukong.

Namun siapa sangka sebelum mereka berseteru hubungan antara Ahok dan Ratna Sarumpaet sempat akrab.

Sebelum akhirnya berseberangan, awalnya hubungan Ratna Sarumpaet dan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok sempat akrab.

Baca: Edric Sebut Suami Baru Maia Estianty, Ini Catatan Masa Lalu Ibu Al, El dan Dul

Dilansir Tribunjambi.com dari Warta Kota, Ratna Sarumpaet dulunya merupakan pendukung Basuki Tjahaja Purnama saat menjadi pasangan Joko Widodo pada Pilkada DKI Jakarta 2012.

Saking dekatnya Ratna dengan Ahok pernikahan putri Ratna yakni Atiqah Hasiolan pun bisa dilangsungkan di Pulau Seribu, salah satu kawasan wisata DKI Jakarta.

Namun seiring berjalannya waktu Ratna menjadi salah satu penentang Ahok paling depan.

Saat Pemprov DKI Jakarta hendak menggusur kampung Pasar Ikan dan Kampung Aquarium di Jakarta Utara, Ratna tampil membela warga.

Ratna menampik bila kritik keras yang dilontarkannya selama ini kepada pemprov DKI lantaran ketidaksukaannya secara pribadi kepada Ahok.

Menurut Ratna pada awalnya ia berhubungan baik dengan mantan Bupati Belitung Timur tersebut.

Tahun 2012, Ahok pernah mendatangi rumah Ratna meminta dukungan untuk maju sebagai calon wakil gubernur mendampingi Joko Widodo.

Pada Pilkada 2012, Ratna mendukung pasangan Jokowi-Ahok melawan Fauzi Bowo.

Hasilnya, Jokowi-Ahok menang meski melalui dua putaran.

Ratna juga mengakui, berkat Ahok lah, anaknya, Atiqah Hasiholan bisa menikah di Pulau Seribu.

“Saya sebenarya dulu baik, Pak Ahok datang ke rumah aku dulu meminta dukunganku,” katanya.

Ia mengatakan, saat itu ia sangat mendukung Ahok menjadi pimpinan DKI.

Alasannya Ahok merupakan bagian dari minoritas, dan dalam memimpin suatu daerah tidak dinilai dari latar belakangnya, melainkan dari kemampuannya.

“Saya dukung banget karena dia minoritas. Dan saya kira Indonesia harus menerima pemimpin berdasakan kemampuan, tidak peduli latar belakangnya,” katanya.

Ratna mengaku mulai muncul ketidaksukaan pada Ahok pada saat kegiatan keagamaan Idul Qurban tahun 2014.

Ahok menurut Ratna justru tidak menghormati keberagaman dengan melarang pemotongan hewan qurban di sembarang tempat dan harus di RPH (Rumah Potong Hewan).

Ketidaksukaan tersebut ditambah lagi saat kasus penggusuran Kampung Pulo, Jakarta Timur.

Menurut Ratna, Ahok tidak bisa memberikan alasan yang kuat dalam melakukan penggusuran Kampung Pulo ketika itu.

Manurut Ratna, kekurangan ahok yang paling mendasar adalah antikritik.

Mereka yang mengkritik langsung dicap sebagai musuh.

“Pak Ahok menurut saya apabila dibilang salah dia akan marah besar. Menurut saya seperti itu kurang tepat. Manusia itu pasti ada salah salahnya lah. Dari situ lah kita belajar,” katanya.

Ratna mengaku sadar Ahok memiliki watak yang keras.

Namun bukan berarti dengan watak keras tersebut tidak dapat berdialog dengan warganya.

Menurut Ratna, ia pun juga berwatak keras, namun dalam membahas atau menyelesaikan persoalan, membuka ruang dialog.

“Bukan berarti saya selalu benar ya dan bukan berarti pak Ahok benar juga ya, tapi itu kan bisa didialogkan. Jangan kita kritik, kemudian kita dicoret dari daftar teman,” kritik Ratna.

Editor: bandot
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved