Ngotot Tak Mau Menyerah ke Tangan Belanda, Anggota Kopassus Tetap Menyerang Walau Lengan Hancur

Satu diantara penyusupan paling berbahaya pasukan Indonesia dalam operasi Trikora memperebutkan Irian Barat

Ngotot Tak Mau Menyerah ke Tangan Belanda, Anggota Kopassus Tetap Menyerang Walau Lengan Hancur
Indo Polhukam
Kopassus 

TRIBUNJAMBI.COM - Operasi Trikora dalam rangka perebutan Irian Barat dari tangan Belanda menjadi satu diantara operasi militer paling heroik yang dilakukan oleh Indonesia.

Pada operasi Trikora, para prajurit TNI disusupkan ke kantong-kantong pertahanan musuh.

Satu diantara penyusupan paling berbahaya pasukan Indonesia dalam operasi Trikora memperebutkan Irian Barat yakni Operasi Banteng II.

Misi tersebut melibatkan personel Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang saat ini bernama Paskhas dan RPKAD atau saat ini merupakan pasukan Kopassus.

Gabungan Kopassus dan Paskhas ini bakal diterjunkan di tengah wilayah hutan belantara di Irian Barat.

Mereka ditugaskan untuk masuk ke dalam wilayah pertahanan Belanda dan mengacaukan konsentrasi pasukan Belanda.

Para prajurit yang siap bertempur tersebut dibagi ke dalam dua tim yakni Banteng I di Fak-fak dan Banteng II di Kaimana.

Banteng I dilakukan misi penerjunan di Fak-Fak yang dipimpin Letda Inf Agus Hernoto, sedangkan di Kaimana dipimpin Lettu Heru Sisnodo.

Baca: Timnas Beregu Putra Asian Para Games 2018 Ini Akan Sumbang Bonus Bagi Korban Musibah Palu

Baca: Pernah Perang Tumpas Nazi, Rokus Barendregt Visser Bapak Kopassus yang Mengerikan dari Belanda

Penerjunan di Kaimana yang pertama terdiri dari tiga pesawat Dakota yang diterbangkan oleh Kapten Udara Santoso dengan kopilot LU II Siboen, LU I Suhardjo dengan LU II M Diran, dan LU I Nurman Munaf dengan LU I Suwarta.

Penerbangan ini dipimpin Kapten Santoso.

Halaman
1234
Editor: ekoprasetyo
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved