Pasar Sengeti Gagal Dibangun Tahun Ini, Ini Penjelasan ULP

"Ada dua faktor gagalnya Pasar Sengeti ini, satu karena DIPA Kementerian turunnya lama, sama proses tender yang mana tidak ada satupun

Pasar Sengeti Gagal Dibangun Tahun Ini, Ini Penjelasan ULP
TRIBUN JAMBI/SAMSUL BAHRI
Pasar Sengeti 

Laporan Wartawan Tribunjambi.com Samsul Bahri

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - "Ada dua faktor gagalnya Pasar Sengeti ini, satu karena DIPA Kementerian turunnya lama, sama proses tender yang mana tidak ada satupun yang memenuhi persyaratan," ujar Suhardi, Pokja ULP Kab. Muarojambi.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa DIPA tersebut turun pada 29 Juni 2018 dan itupun belum ada perencanaan dan sudah memasuki akhir triwulan kedua. Ia menambahkan idealnya pada bulan Juli sudah harus ada pemenang tender, namun kita bisa mulai tender itu pada awal Agustus 2018.

Baca: Tak Lakukan Pemulihan, Lahan Perusahaan Terancam Diambil Pemerintah

"Idealnya pembangunan dengan dana tersebut itu enam bulan pengerjaan. Mulai dari perencanaan, konsultasi, persiapan, barang, orang, dan lainnya,"sebutnya

Selain itu, terkait dengan proses tender dikatakan oleh Suhardi, untuk pembangunan Pasar Sengeti sudah dilakukan dua kali lelang. Namun, memang tidak ada satupun rekanan yang memenuhi syarat.

"Tender pertama itu kita lakukan pada Agustus, kemudian gagal karena tidak memenuhi syarat. Kemudian tender kedua lagi dengan bulan yang sama kita lakukan lagi dan gagal," terangnya.

Ia menerangkan, dari empat penawaran yang masuk, dua penawaran gugur didiskualifikasi dan dua dievaluasi. Kemudian karena waktu semakin pendek pihaknya telah membicarakan persoalan tersebut dengan Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D).

"Waktu pengerjaan yang normal itu harus 180 hari, tapi pada saat tender kedua itu 100 hari itupun sudah khawatir jika gagal lagi maka waktu pekerjaan semakin berkurang," terangnya.

Baca: Ini Kata Bupati Tebo Soal Penyaluran Dana Bantuan Gempa Palu

Baca: Hari Ini Festival Kerinci Dimulai, Dibuka Plt Gubernur Jambi

Dengan demikian, maka resiko yang diambil menentukan atau membatalkan, dikatakan oleh Suhardi akan lebih tinggi resikonya jika meneruskan. Jika dikerjakan namun dengan waktu yang singkat maka akan menjadi temuan.

Lebih lanjut, Suhardi mengatakan bahwa dalam persoalan gagalnya tender ini karena ada dua faktor yaitu karena DIPA dan Tender.

"DIPA itu keluar di pertengahan tahun dan belum ada perencanaan. Kenapa DIPA itu tidak turun pada awal tahun, atau bulan April. Jadi proses waktunya masih panjang, kemudian saat tender itu rekanan tidak memenuhi syarat," sebutnya.

Baca: Komunitas di Tebo Galang Bantuan untuk Warga Palu

Baca: Kasus Pencabulan pada Anak Kandung di Batanghari, Terdawa Dituntut 18 Tahun Penjara dan Denda

Baca: BRG Jambi: 70 Ribu Ha Lahan Gambut di Jambi Sudah Dipulihkan

Penulis: samsul
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved