4 Motif Batik Jawa yang Unik, Ada yang Terkait 'Saling Ejek' Dua Keraton di Jawa

Ada banyak motif batik di Jawa, namun ada empat motif tua yang diyakini mistis, terkait Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

4 Motif Batik Jawa yang Unik, Ada yang Terkait 'Saling Ejek' Dua Keraton di Jawa
Penjaga di Keraton Surakarta.(kompas.com/M Wismabrata) 

Panembahan Senopati begitu kagum terhadap stalagmit dan stalagtit yang ada di dalam gua yang khas, khususnya saat gelap. Setelah menjadi Raja Mataram, dia memerintahkan putri keraton untuk mencanting motif tersebut.

Ketiga, motif Batik Truntum

Biasanya motif batik ini dianggit atau dicipta oleh kaum lelaki. Motif truntum merupakan bentuk pengecualian. Motif ini dibuat Kanjeng Ratu Beruk, selir dari Paku Buwono III (bertahta 1749-1788) di Keraton Surakarta.
Kanjeng Ratu Beruk bukan dari kalangan bangsawan, tetapi anak dari seorang abdi dalem keraton bernama Mbok Wirareja.

Motif batik Truntum. (multiglobalinfo)
Motif batik Truntum. (multiglobalinfo) ()

Persoalan status itu menjadikan Kanjeng Ratu Beruk selalu gundah. Di mendamba jadi permaisuri kerajaan, sebuah status yang begitu dihormati dan dipuja. Tapi lebih dari semua itu, Kanjeng Ratu Beruk ingin selalu berada di samping sang raja agar malam-malam sunyi tidak ia lewati sendirian.

Pada suatu malam, perhatian Kanjeng Ratu Beruk tertuju pada indahnya bunga tanjung yang jatuh berguguran di halaman keraton yang berpasir pantai. Seketika itu juga dia mencanting motif truntum dengan latar ireng (hitam). Ini refleksi dari sebuah harapan, walaupun langit malam tiada bulan, masih ada bintang sebagai penerang.

Selalu ada kemudahan di setiap kesulitan. Sekecil apa pun kesempatan, ia tetap bernama kesempatan.

Keempat, motif Batik Udan Riris

Paku Buwono III juga dikenal sebagai kreator motif batik. Dia memegang tahta saat Keraton Surakarta (Solo) banyak mengalami guncangan perpecahan pasca Perjanjian Giyanti (1755).

Motif batik Udan Riris. (multiglobalinfo)
Motif batik Udan Riris. (multiglobalinfo) ()

Mengacu pada hasil perjanjian Giyanti yang membagi wilayah dan isi keraton Kasunanan Surakarta, sebagian pusaka dan batik kraton pun telah dibawa ke Yogyakarta oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian jumeneng (bertahta) sebagai raja pertama kerajaan Yogyakarta (Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat).
Mulai saat itu, dimulailah perang dingin antara Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Kerap terjadi saling ejek antara antara dua keraton. Batik Surakarta motif Krambil Sesungkil dan Slobok yang dipakai para isteri bangsawan untuk melayat, di Yogyakarta dipakai untuk parapunakawan (batur atau pembantu) dalam kisah pewayangan.

Halaman
123
Penulis: duanto
Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved