Breaking News:

Terlalu Lelah Bekerja, Banyak Warga Jepang Alami Kematian 'Karoshi'

Negara yang terkenal dengan julukan Negeri Sakura ini memang terkenal dengan jam kerja yang panjang.

Akaranan Panyadee/Getty Images/iStockphoto
Ilustrasi karoshi 

TRIBUNJAMBI.COM - Kematian akibat terlalu banyak bekerja bukanlah cerita baru bagi masyarakat Jepang.

Negara yang terkenal dengan julukan Negeri Sakura ini memang terkenal dengan jam kerja yang panjang.

Baca: Biodata Denira Wiraguna, Cewek Cantik yang Jalan Bareng Kevin Sanjaya

Kasus Karoshi pertama kali terjadi pada tahun 1969, ketika seorang pria berusia 29 tahun meninggal karena stroke dan serangan jantung akibat bekerja secara berlebihan.

Awalnya, pada tahun 1980-an, Karoshi dipercaya hanya menyerang pria, tetapi saat ini wanita juga mengalami Karoshi seperti yang dikatakan oleh Hiroshi Kawahito, pengacara dan sekretaris jenderal Penasihat Pertahanan Nasional untuk Korban Karoshi.

Hampir satu dari lima korban Karoshi terjadi pada wanita, seperti yang dialami oleh Miwa Sado dan Takahashi.

Pada 25 Juli 2013, Sado (31) ditemukan tewas di apartemennya di Tokyo dengan posisi sedang memegang ponselnya.

Miwa Sado adalah seorang jurnalis yang meninggal setelah bekerja 159 jam dalam waktu sebulan.

Baca: Sekejab Bisa Membunuh secara Massal, Ini 5 Senjata Perang Paling Mematikan dalam Catatan Sejarah

Baca: Industry 4.0 Pada Australia In Your Hand Dengan Augmented Reality Nilai Tambah Produk Indonesia

Penyebab kematiannya telah diklasifikasikan sebagai "karoshi"—kematian karena terlalu banyak bekerja.

Kemudian, pada 25 Desember 2015, Matsuri Takahashi bunuh diri dengan cara melompat dari asramanya setelah kelelahan bekerja selama 105 jam pada bulan sebelumnya.

Beberapa minggu sebelum kematiannya, Takahashi menulis di media sosial yang mengatakan, "Saya hancur secara fisik dan mental" dan "Saya ingin mati."

Halaman
1234
Editor: Suci Rahayu PK
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved