'Mir, jangan kau bunuh ya' Bisikan Bung Karno saat Amir Machmud Tangkap Soebandrio

"Siap Pak. Saya jamin tidak terjadi. Orde Baru kami tidak akan meniru praktik-praktik Lubang Buaya." kata Amir Machmud.

'Mir, jangan kau bunuh ya' Bisikan Bung Karno saat Amir Machmud Tangkap Soebandrio
Berdasar Tap MPRS No XIII/1966, Presiden Soekarno menugaskan Letjen Soeharto selaku Pengemban Tap MPR No IX/1966 untuk pembentukan Kabinet Ampera. Letjen Soeharto menjadi Ketua Presidium kabinet tersebut. Bung Karno sedang mengumumkan susunan kabinet tersebut pada tanggal 25 Juli 1966. Letjen Soeharto dan Adam Malik duduk mendengarkan. Presiden Soekarno ketika mengumumkan Kabinet Ampera di Istana Merdeka Senin malam dan tampak antara lain Ketua Presidium Let.Djen Soeharto dan Menteri Utama Adam Malik.(-/Arsip Kompas) 

TRIBUNJAMBI.COM - Peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober 1965 dini hari, menjadi titik balik perubahan politik Indonesia. Saat itu terjadi penculikan dan pembunuhan enam jenderal dan satu perwira menengah TNI AD.

Hal itu tak cukup mudah dipahami, meski banyak buku, artikel, laporan, dan kesaksian telah dibuat.

Siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang mengambil manfaat?

Ibarat sebentuk gambar yang terdiri atas banyak potongan kertas, belum terbentuk gambar yang utuh. Celakanya, banyak kertas palsu atau rekayasa.

Baca: Kisah Sukitman, Agen Polisi yang Lolos dari Kekejaman G 30S/PKI di Lubang Buaya

Baca: Ibu Tien Marah Besar saat Tahu Soeharto Temui Istri Soekarno, Peristiwa 1965

Baca: Mbah Suro, Simpatisan PKI yang Sakti Mandraguna, Namun Keok Dalam Serbuan Kopassus

Buku Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang - Catatan Julius Pour (2010) ini mencoba menyusun kembali gambar berdasarkan kesaksian para tokoh penting di seputar peristiwa itu.

Mayong Suryo Laksono mencukil buku tersebut dan dimuat di Majalah Intisari edisi November 2010, dengan judul asli Mencari Titik Terang dari Kelamnya Sejarah Indonesia.

--

Pada dini hari 12 Maret 1966, Letjen Soeharto langsung menandatangani Surat Keputusan No. 1/3/1966 tentang Pembubaran PKI. Sejak itu, semua surat yang dikeluarkannya selalu dengan alinea pembuka "Atas Nama Presiden Sukarno"

Setelah berkonsolidasi dengan Panglima AU, AL, dan Angkatan Kepolisian, Letjen Soeharto melakukan pembersihan PKI. Di pemerintahan, di organisasi, dan di kelompok-kelompok masyarakat.

Selain penangkapan dan penyidangan lewat Mahkamah Militer Luar Biasa, penyerbuan juga dilakukan mengingat masih ada senjata api yang dikuasai PKI.

Halaman
1234
Editor: duanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved