Pelemahan Rupiah

Melihat Fundamentalnya, Bank Indonesia: Rupiah Seharusnya Tidak Selemah Ini 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah yang saat ini merosot sudah keluar dari fundamentalnya.

Melihat Fundamentalnya, Bank Indonesia: Rupiah Seharusnya Tidak Selemah Ini 
ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Gubernur BI Perry Warjiyo 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah yang saat ini merosot sudah keluar dari fundamentalnya.  Dilansir Reuters, Selasa (4/9) pukul 6.12 sore, nilai tukar rupiah berada di Rp 14.954 per dollar AS.

“Betul bahwa rupiah ini tergantung juga dengan sentimen pasar, tetapi hitungan fundamentalnya harusnya tidak selemah ini,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Gedung DPR RI, Selasa (4/9).

Baca: Surat Kemenpora Menagih 3.226 Barang Milik Negara kepada Roy Suryo Viral di Media Sosial

Menurut Perry, pelemahan nilai tukar rupiah banyak dipengaruhi oleh sentimen negatif baik di luar negeri maupun dalam negeri. Dari luar negeri, misalnya kenaikan Fed Fund Rate, tekanan dari Argentina dan Turki serta isu perang dagang. Sementara dari domestik adalah pembelian valas oleh korporasi untuk impor yang masih besar.

Untuk sentimen yang datangnya dari dalam negeri, Perry mengimbau agar pelaku ekonomi dalam negeri tidak perlu menubruk dollar AS.

“Kami sampaikan ke importir dan korporasi yang butuhkan valas tidak perlu menubruk-nubruk. Kami sudah sediakan swap. Swap Jumat lalu, targetnya US$ 400 juta dan realisasinya US$ 850 juta. Kami juga di BI komitmen stabilkan rupiah dan meningkatkan intensitas intervensi kami,” jelasnya.

Asal tahu saja, untuk mencegah nilai tukar rupiah merosot lebih dalam, BI terus berada di pasar untuk menaikkan volume intervensi baik di pasar valas maupun di pasar SBN.

Baca: Para Spekulan Dollar AS di Pasar agar Bersiap;  Kemkeu, BI, dan OJK Tengah Membidik Anda

Baca: Nilai Tukar Rupiah Merosot, Wapres Minta Masyarakat Bantu Kurangi Impor Barang-barang Mewah Ini

Perry mengatakan, sejak Kamis (30/8), BI telah masuk ke pasar sekunder SBN.

“Kamis dan Jumat lalu maupun kemarin (Senin 3 September 2018) kami beli SBN. Jumat kami beli SBN Rp 4,1 triliun yang dijual asing. Kemarin (Senin) kami beli dari pasar sekunder Rp 3 triliun,” ujar Perry di Gedung DPR RI, Selasa (4/9).

Dengan demikian, bila dihitung, BI sudah mengeluarkan Rp 7,1 triliun untuk intervensi SBN di pasar sekunder.

Selain itu, Perry mengatakan, dengan fokus jangka pendek bank sentral yang lebih kepada stabilisasi khususnya rupiah, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5% sejak awal tahun ini. Hal ini juga merupakan upaya stabilkan nilai tukar.

“Ini agar imbal hasil aset-aset keuangan khususnya SBN tetapi menarik,” ucapnya

Dengan menaikkan suku bunga acuan, kata Perry masih terjadi masuknya aliran modal asing pada Juli-Agustus lalu.

Baca: Selamatkan Cadangan Devisa Negara, Pemerintah akan Tindak Tegas Spekulan Dollar AS

Baca: Dinilai Sukses! Media Internasional Puji Penyelenggaraan Asian Games 2018 di Indonesia

Baca: Anda Belum Pernah Diperiksa Pajak? Siap-siap, Bisa Jadi Anda Daftar Prioritas

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved