Investor Global Lihat Peluang Belanja Aset Murah, Indonesia dan Brasil Dilirik

Beberapa manajer investasi menjadikan krisis ekonomi Turki sebagai kesempatan mengambil berbagai aset murah dari obligasi

Editor: Fifi Suryani
Bloomberg/Daniel Acker

TRIBUNJAMBI.COM, TOKYO - Beberapa manajer investasi menjadikan krisis ekonomi Turki sebagai kesempatan mengambil berbagai aset murah dari obligasi di Indonesia hingga saham-saham di Brasil.  Pasalnya, krisis Turki telah memusingkan kepala investor dan para pembuta kebijakan di pasar negara berkembang.

Pandangan bullish pertumbuhan global telah diuji secara parah tahun ini, dengan pasar saham dilanda perang perdagangan China-AS, kenaikan imbal hasil surat utang AS, dan reli dollar AS.

Baca: Indonesia Salip Iran, Berikut Klasemen Perolehan Medali Asian Games 2018 Hingga Senin (27/8) Siang

Masalah Turki mempercepat penurunan itu. Lira anjlok sekitar 30% selama beberapa minggu pada bulan Juli dan Agustus, dilanda meningkatnya kekhawatiran kebijakan Presiden Tayyip Erdogan dan hubungan diplomatik yang memburuk dengan Amerika Serikat dan Eropa.

Krisis itu memicu penurunan tajam mata uang pasar negara berkembang lainnya, seperti Argentina, India, Rusia, Afrika Selatan, dan Indonesia.

Sejalan dengan peningkatan kecemasan yang lebih luas, banyak investor melihat peluang bagus untuk meningkatkan posisi di beberapa pasar ini, terutama di Asia.

Bagi Fabiana Fideli, kepala global ekuitas fundamental di Robeco, Korea Selatan dan China adalah tujuan investasi teratas. "Anda akan memiliki volatilitas. Sayangnya, kesempatan itu datang bersamaan di pasar-pasar negara berkembang," kata Fideli.

Baca: VIDEO: Kepemilikan Asing Sudah Jauh Berkurang, Kebijakan Pasar Lebih Atraktif

Baca: Indonesia Pastikan Satu Medali Emas, Marcus/Kevin ke Final

Tapi dia mencatat ini adalah kesempatan untuk membeli daripada alasan untuk panik. Robeco menjual kepemilikannya di Turki dalam strategi ekuitas fundamentalnya jauh sebelum krisis, katanya, mengantisipasi masalah dari pengaturan moneter negara yang sangat longgar.

Robert Samson, seorang manajer portofolio multi-aset senior yang berbasis di Nikko Asset Management Singapura, melihat saham-saham Asia didukung oleh pendapatan yang kuat dan pertumbuhan yang secara struktural baik, telah menambah kelas aset ke posisi overweight Nikko.

Dia mengatakan rasio price-to-earning (PER) saham Asia di luar Jepang adalah sekitar 13 kali, jauh di bawah rata-rata dan terendah sejak awal 2016 ketika pasar juga cukup tertekan.

"Ini bukan untuk mengatakan mereka tidak bisa mendapatkan harga yanglebih murah lagi, tetapi kami melihat tingkat pembalikan yang wajar ketika stres mereda," katanya.

Aksi jual di pasar negara berkembang mengumpulkan momentum setelah Presiden AS Donald Trump pada Maret menandatangani memorandum yang menargetkan hingga US$ 60 miliar barang-barang China dengan tarif impor, memicu kekhawatiran perang perdagangan global.

Baca: Indonesia Kembali Tambah Medali Emas dari Aqsa Sutan Aswar, Cabang Jetski

Baca: Perusahaan Teknologi Finansial Akhirnya Punya Payung Hukum dari OJK

Baca: Bermaksud Membantu, 2 Anggota PRJ Malah Ditembak 3 OTK di Pinggir Tol Kanci-Pejagan

Sejak itu, pasar saham China telah merosot hampir 15% dalam dolar dan Indonesia telah kehilangan 12% meskipun India telah meningkat 5%.

Data dari layanan riset Morningstar menunjukkan ekuitas pasar yang berkembang dan dana obligasi secara global membukukan arus keluar bersih pada bulan Mei dan Juni, membalikkan arus masuk yang terlihat pada bulan Januari hingga April.

Dalam usahanya mencari peluang, Kenneth Akintewe, kepala Utang Negara Asia di Aberdeen Standard Investments di Singapura, mempelajari posisi investor di setiap pasar. Obligasi Indonesia berubah dari posisi overweight terbesar timnya menjadi underweight pada akhir 2017 karena tingkat kepemilikan asing melonjak di atas 40%.

Halaman
12
Sumber: Kontan
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved