Breaking News:

Blak-blakan Ajudan Soekarno: Bung Karno Dikibuli Soeharto!

Itulah hal yang disampaikan Sidarto Danusubroto, ajudan terakhir Bung Karno, pasca-terbitnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) tahun 1966.

Soekarno dan Soeharto. 

TRIBUNJAMBI.COM - Presiden Soekarno merasa dibohongi Soeharto.

Itulah hal yang disampaikan Sidarto Danusubroto, ajudan terakhir Bung Karno, pasca-terbitnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) tahun 1966.

"Bung Karno merasa dikibuli," kata Sidarto saat dijumpai Kompas.com di kediamannya di Jakarta Selatan, Minggu (6/3/2016).

Baca: 236 Pengusaha di Kota Jambi Diberi Peringatan, Ini Masalahnya

Baca: Pengumuman CPNS Tak Kunjung Dibuka, Ini Kata BKPSDM

Setelah 50 tahun berlalu, Supersemar masih menyimpan banyak misteri.

Setidaknya masih ada kontroversi dari sisi teks dalam Supersemar, proses mendapatkan surat itu, dan mengenai interpretasi perintah tersebut.

Menurut Sidarto, Soekarno menunjukkan sikap berbeda dengan serangkaian langkah yang diambil Soeharto setelah menerima Supersemar.

Sidarto tidak menyebut detail perubahan sikap Soekarno, tetapi ia menekankan bahwa Supersemar tidak seharusnya membuat Soeharto membatasi ruang gerak Sang Proklamator dan keluarganya.

Baca: Ketika Mobil Soekarno Mogok, Sopir Pribadi: Pak, Aki Mobilnya Tak Ada.

Baca: Lima Butir Pancasila Lahir dari Soekarno Saat Berada di Bawah Rindangnya Pohon Sukun ini

"Dalam Supersemar, mana ada soal penahanan? Penahanan fisik, (dibatasi bertemu) keluarganya, penahanan rumah. Supersemar itu seharusnya melindungi keluarganya, melindungi ajarannya (Bung Karno)," kata Sidarto.

Pada 11 Maret 1966 pagi, Presiden Soekarno menggelar rapat kabinet di Istana Merdeka, Jakarta.

Pada saat bersamaan, ia dikejutkan dengan kehadiran demonstran yang mengepung Istana.

Demonstrasi itu dimotori kelompok mahasiswa yang mengusung Tritura (tiga tuntutan rakyat; bubarkan PKI, rombak kabinet, dan turunkan harga-harga).

Pada waktu yang sama, Brigjen Kemal Idris mengerahkan sejumlah pasukan dari Kostrad untuk mengepung Istana.

Alasan utamanya adalah untuk menangkap Soebandrio yang berlindung di Kompleks Istana.

Baca: Bak Kata Sandi, Tentara Belanda Curiga dengan Siulan Bung Karno yang Ternyata Merupakan . . .

Baca: Sungguh Mistiknya Alasan Soekarno di Balik Angka Keramat 17 yang Jadi Tanggal Kemerdekaan Indonesia

Pasukan yang dikerahkan Kemal itu tidak mengenakan identitas.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved