Sosialisasi Hasil Penelitian Balai Arkeologi Sumsel, Candi Muarojambi Beda dengan Kosmologi India

Balai Arkeologi Sumatera Selatan mengadakan sosialisasi hasil penelitian yang dilakukan di sekitaran situs cagar Muaraojambi,

Sosialisasi Hasil Penelitian Balai Arkeologi Sumsel, Candi Muarojambi Beda dengan Kosmologi India
TRIBUN JAMBI/MAREZA SUTAN AJ
Pemateri Sosialisasi Hasil Penelitian Balai Arkeologi Sumsel, Dra Retno Purwanti Msi. 

Laporan Wartawan Tribunjambi.com Mareza Sutan A J

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Balai Arkeologi Sumatera Selatan mengadakan sosialisasi hasil penelitian yang dilakukan di sekitaran situs cagar Muaraojambi, Jumat (24/8/18). Pengertian tersebut difokuskan kepada 'Kosmologi Percandian'. Acara itu berlangsung di hotel Duta, Kota Jambi dan diisi oleh 3 orang pemateri.

Satu di antara pemateri Dra Retno Purwanti MSi dalam kesempatan tersebut menjelaskan lebih rinci tentang kosmologi percandian. Dalam penjelasannya, dia menyampaikan kosmologi dalam konsep Buddha ada dua. Di antaranya, makrokosmologi dan mikrokosmologi. Dilanjutkannya, dalam kepercayaan Buddha terdapat gunung Meru yang menjadi pusat jagat raya. Dalam hal ini, gunung Meru dikelilingi oleh pegunungan dan samudra.

Baca: Sosialisasi Hasil Penelitian Balai Arkeologi Sumsel, Belokan Sungai Batanghari Buatan Manusia 

Dalam penelitiannya di Candi Muarojambi, dia berhipotesis ada kesamaan konsep antara Candi Muarojambi dengan gunung Meru.  Dalam konsep kosmologi, terdapat benua yang terletak di selatan gunung Meru.

"Benua yang terletak di selatan Gunung Meru disebut Jambudwipa, tempat umat manusia," katanya.

Namun, hal dari beberapa konsep kosmologi yang dianut dalam Buddha, tidak semua konsep diterapkan di candi Muarojambi.

Dengan begitu, dia mengambil kesimpulan sementara, bahwa Candi Muarojambi menggunakan konsep rekayasa template.

"Sementara di Candi Muara Jambi menggunakan konsep rekayasa template. Berdasarkan penelitian Candi Muaro Jambi tidak sama konsepnya dengan kosmologi India," jelasnya.

Untuk diketahui, acara ini diikuti oleh puluhan hadirin yang berlatar belakang berbeda. Mulai dari peneliti, akademisi, mahasiswa, instansi pemerintahan, tokoh masyarakat, hingga media.

Baca: Ada 71 Jenis Narkoba Baru di Indonesia, Penyalahguna Terbanyak di Lingkungan Kerja

Baca: Cegah Narkoba dengan Ubah Pola Pikir

Dalam kesempatan tersebut Novie Hari Putranto juga menjelaskan tentang komoditas yang dihasilkan masyarakat Muarojambi menyampaikan perkembangan masyarakat Muarojambi dalam melestarikan cagar budaya tersebut.

"Kami sering sosialisasi kepada masyarakat yang ada di kawasan Muarojambi," kata dia.

Selain itu, dia juga bersosialisasi untuk menyampaikan untuk membina masyarakat membuat komoditas, seperti cenderamata.

Untuk diketahui, acara ini diikuti oleh puluhan hadirin yang berlatar belakang berbeda. Mulai dari peneliti, akademisi, mahasiswa, instansi pemerintahan, tokoh masyarakat, hingga media.

Penulis: Mareza
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved