Sosialisasi Hasil Penelitian Balai Arkeologi Sumsel, Belokan Sungai Batanghari Buatan Manusia 

Balai Arkeologi Sumatera Selatan mengadakan sosialisasi hasil penelitian di situs kawasan Muarojambi. Sosialisasi tersebut

Sosialisasi Hasil Penelitian Balai Arkeologi Sumsel, Belokan Sungai Batanghari Buatan Manusia 
TRIBUN JAMBI/MAREZA SUTAN AJ
Pemateri Sosialisasi Hasil Penelitian di Situs Kawasan Muarojambi, Ir. Hendra 

Laporan Wartawan Tribunjambi.com, Mareza Sutan A J

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Balai Arkeologi Sumatera Selatan mengadakan sosialisasi hasil penelitian di situs kawasan Muarojambi. Sosialisasi tersebut menghadirkan tiga pemateri. Satu di antaranya Ir Hendra.

Dalam kesempatan itu, dia lebih banyak menyampaikan mengenai geohidrologi dalam 'Kosmologi Percandian'. Dia menyampaikan, dalam geohidrologi, setidaknya ada empat perspektif.

"Cara mendapatkan air, teknik mengelola air, jenis pemanfaatan air, dan usaha melestarikan air," katanya, Jumat (24/8/18).

Baca: Yuwa Motor; Dari Cuci Hingga Salon Mobil. Ada Diskon dan Gratis Cuci bagi Pemegang TFC

Dijelaskannya, di sekitaran candi Muarojambi, terdapat teknik pengelolaan air yang mengagumkan. Sebab, kata dia, di sekitaran candi tersebut terdapat kanal-kanal dan pengaliran air yang lebih teratur daripada pengaliran zaman sekarang.

Yang lebih menarik, kata dia, pengaliran tersebut dibuat di kondisi daratan yang tidak rata.

"Sekitar 800 tahun yang lalu, ternyata orang-orang di Muarojambi telah berhasil membuat sistem pengaliran yang lebih bagus," jelasnya.

Dia memperhatikan hal tersebut berdasarkan pengamatan secara regional hingga makro. Dia menerangkan, sungai Batanghari berbelok-belok. Meski begitu, sungai Batanghari memiliki pola. Berdasarkan hal itu, dia berhipotesis.

"Secara regional, Sungai Batanghari berbelok-belok, tapi punya pola. Dalam geologi, disebut tralis. Tapi secara geohodrologi, itu tidak alamiah, bisa jadi itu buatan orang," terangnya.

Sementara itu, secara makro, lebih detail kata dia, sungai Batanghari seperti gang.

"Persis seperti lorong-lorong. Banyak yang tidak karuan. Hal tersebut disebabkan karena daratannya bergelombang," lanjutnya.

Baca: Ada 71 Jenis Narkoba Baru di Indonesia, Penyalahguna Terbanyak di Lingkungan Kerja

Baca: Cegah Narkoba dengan Ubah Pola Pikir

Penulis: Mareza
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved