Pemerintah Siapkan 4 Strategi, Tahun Depan Utang Jatuh Tempo Rp 409 Triliun

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan anggaran tahun depan memiliki tantangan yang cukup berat karena besaran utang

Pemerintah Siapkan 4 Strategi, Tahun Depan Utang Jatuh Tempo Rp 409 Triliun
Setkab.go.id
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan terlihat memegang ponsel untuk berswafoto bersama Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri BUMN Rini M Soemarno, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, serta Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA -  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan anggaran tahun depan memiliki tantangan yang cukup berat karena besaran utang jatuh tempo cukup besar.  Jumlah utang jatuh tempo yang harus dibayarkan oleh pemerintah pada tahun depan mencapai Rp 409 triliun.

“Tahun depan mungkin yang agak berat adalah karena banyak utang masa lalu yang jatuh temponya cukup tinggi di 2019. Ini yang mungkin nanti akan menimbulkan kemampuan kita untuk melakukan revolving terhadap utang yang jatuh tempo. Nilainya Rp 409 triliun,” kata Sri Mulyani di kawasan GBK, Kamis lalu.

Baca: Semprong Kerucut Sandika, Dapat Pesanan dari Singapura 

Menilik ke dalam nota keuangan RAPBN 2019, ada empat strategi yang sudah dipersiapkan pemerintah untuk menutup utang jatuh tempo. Pertama, mengoptimalkan sumber pendanaan utang dari dalam negeri dengan mengutamakan utang baru dalam mata uang rupiah dan mengendalikan porsi penerbitan SBN valas.

Kedua, memaksimalkan utang baru dengan tenor menengah–panjang dan tingkat bunga tetap. Ketiga, melakukan manajemen utang (liability management) melalui mekanisme pembelian kembali (buyback) dan/atau debt switch. Keempat, memanfaatkan instrumen lindung nilai.

Sri Mulyani bilang, meski demikian, pemerintah akan berusaha menjaga rasio utang di bawah 30% terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Utang kita akan dijaga supaya tetap sustainable dari sisi fiskalnya, dan akan di kisaran di bawah 30%. Tahun depan ada di 29,8%. Rasio utang terhadap GDP kita itu termasuk yang rendah di dunia,” kata dia.

Baca: Warga Negara Asing Komentari Pembukaan Asian Games, Impresif dan Memesona!

Baca: Rini Soemarno Klaim Proyek Kereta Cepat Tak Bebani Transaksi Berjalan

Meski utang jatuh tempo terbilang besar, pada tahun depan pemerintah menargetkan untuk mengendalikan tambahan utang. Pemerintah menargetkan rasio defisit anggaran terendah dalam lima tahun terakhir, yakni dari 2,25% terhadap PDB pada 2014 menjadi 1,84% terhadap PDB dalam RAPBN 2019.

“Selain penurunan defisit anggaran, untuk mengendalikan tambahan utang, pemerintah juga melakukan pengurangan pembiayaan anggaran dalam tahun 2019 sebesar 5,4%. Langkah pengendalian ini konsisten dengan yang dilakukan di tahun 2018, yang juga mengurangi pembiayaan sekitar 14,3%,” ujar Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraannya di Gedung DPR RI, Kamis (16/8) lalu.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved