Ketika Seorang Cucu Presiden Soeharto, Diam-diam Palsukan Jati Dirinya Demi Seleksi Paskibraka

Ketika Seorang Cucu Presiden Soeharto, Diam-diam Palsukan Jati Dirinya Demi Gabung Paskibraka.

Ketika Seorang Cucu Presiden Soeharto, Diam-diam Palsukan Jati Dirinya Demi Seleksi Paskibraka
Arsip Tutut Soeharto
Danty Rukmana saat bertugas membawa baki bendera di upacara HUT RI 

TRIBUNJAMBI.COM - Ketika Seorang Cucu Presiden Soeharto, Diam-diam Palsukan Jati Dirinya Demi Gabung Paskibraka.

Ya, bagi sebagian pemuda Indonesia menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) merupakan prestasi yang membanggakan.

Orang-orang yang bertugas mengibarkan bendera pada HUT RI di istana negara itu adalah putra putri terbaik.

Mereka melalui seleksi ketat dan digenjot berbulan-bulan.

Bahkan ada dua cucu presiden Soeharto pun ada yang pernah menjadi Paskibraka.

Dua cucunya itu adalah Danty Rukmana dan Wiratama Hadi Ramanto Pratikto.

Bedanya Danty menjadi anggota Paskibraka saat kakeknya masih menjadi nomor 1.

Sementara Wiratama baru menjadi Paskibraka dimasa kepresiden Susilo Bambang Yodohyono pada tahun 2007.

Baca: Ketika Soeharto Mendadak Kecewa dengan BJ Habibie dan 14 Menteri, Hingga Lakukan Hal ini

Baca: Dahulu Dikenal dengan Nama ABRI, Kenapa Kini Berubah Menjadi TNI? Ini Sejarah dan Ceritanya

Lantas bagaimana kabar Danty sekarang?

Danty Rukmana adalah putri kedua Siti Hardiyanti Hastuti atau biasa disapa mbak Tutut.

Ternyata meski menjadi cucu presiden Soeharto ternyata Danty tak mau dibantu diloloskan begitu saja.

Dia ingin lolos paskibra nasional dengan kemampuan sendiri.

Identitasnya pun disembunyikan.

Bahkan menolak dijenguk orangtuanya saat sedang pendidikan paskibra.

Seperti yang diceritakan sendiri oleh ibunya Tutut Soeharto melalui website pribadinya Tutut Soeharto.

Berikut kisah Danty berjuang menjadi seorang paskibra.

Setiap kali saya meliat foto di atas, rasa bangga, haru dan bahagia selalu menyelimutiku.

Saya ingat betul bagaimana Danty sampai terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA).

Danty SMA di Lab School, Rawa Mangun, dimana Kepala Sekolah nya saat itu adalah pak Arief Rahman.

Alhamdulillah Danty prestasi sekolahnya bagus, sehingga dia dipilih sekolahnya bersama satu orang siswa laki-laki untuk ikut tes penyeleksian anggota PASKIBRAKA, yang nantinya akan mewakili DKI, dimana yang boleh mengikuti adalah anak yang berprestasi dan ranking di kelasnya.

Pada pendaftaran pertama saya tidak tahu menahu. Namun akhirnya saya tahu dia ikut serta. Waktu saya tanya apakah dia ikut tes tersebut, Danty minta pada saya : “Mama dan juga papa, tolong jangan ikut campur dalam tes penyeleksian ini ya, biar Danty sendiri yang menghadapi.”

Saya tanyakan : “Kena apa mbak, kan mama ingin tahu dan mengikuti proses nya dan juga hasilnya.”

Dia menjawab: “Papa dan mama, doa kan Danty berhasil dalam tes penyeleksian ini. Kalau Danty tidak berhasil, Danty mohon maaf sebesar-besarnya ya Ma, Pa.

Tapi kalau Danty berhasil, Danty ingin, semua bukan fasilitas karena eyang jadi Presiden. Mudah-mudahan Danty dapat membuat mama, papa, eyang kakung dan eyang putri serta saudara-saudara bangga, aamiin”

Mendengar dia berkata begitu, saya peluk erat dia, rasa haru tak dapat dibendung. Saya katakan : “Aamiin, mama akan selalu berdoa untukmu wuk, semoga kemudahan, keteguhan, kesabaran, kesehatan, keberhasilan, perlindungan dan petunjuk selalu Allah berikan padamu ya wuk, aamiin.”

Alhamdulillah, terima kasih ya Robb, Anak perempuan kecilku, ternyata sudah dewasa, tumbuh menjadi gadis yang berbudi pekerti dan bijaksana.

Setiap hari hanya doa yang dapat menemani gadisku, sesuai permohonannya padaku. Saya harus yakin bahwa anakku mampu melewati semua tes yang dihadapinya, dan memohon pertolongan-Nya, untuk keberhasilnya anak gadisku.

Saya laporkan kepada bapak dan ibu tentang Danty mewakili sekolahnya mengikuti tes penyeleksian menjadi PASKIBRAKA. Saya sampaikan pula keinginan Danty supaya kita tidak ikut campur, biar dia berusaha dengan kemampuannya. Bapak dan ibu sangat bahagia mendengar berita itu, dan Alhamdulillah bapak ibu sangat menghargai dan bangga atas keputusan Danty, dan kita harus mendukung keinginannya.

Setiap pulang dari tes, saya selalu menanyakan bagaimana hasilnya. Danty selalu menjawab: “Alhamdulillah bisa mah, doakan Danty selalu ya mah.”

“Ada yang tahu nggak kamu cucunya eyang wuk?” aku bertanya.

“Alhamdulillah sampai saat ini nggak ada mah. Mereka tahunya aku perwakilan dari Lab School.”

Akhirnya suatu hari, dia datang dengan senyum manisnya sambil memeluk saya: “ Papa, mama, Alhamdulillah Danty terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.”

Dalam hati saya berbisik: “Terima kasih ya Allah, telah kau izinkan anakku untuk menjadi salah satu Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Berilah anakku Danty kemampuan untuk dapat melaksanakannya dengan baik, benar dan sukses, aamiin.”

Pada saat dia harus masuk pelatihan di Cibubur, rasa rindu selalu ingin melihat Danty, dan ingin tahu bisakah dia melewati latihan-latihan yang diberikan pada para siswa.

Ada salah seorang instruktur, kawan saya (dan Danty saat itu sudah dikenal bahwa dia anak saya dan cucunya bapak), saya sampaikan saya ingin menengok Danty bisa apa tidak. Dia bilang sekarang belum bisa, nanti ada saatnya untuk berkunjung.

Berita ini sampai ke Danty, dia minta izin untuk menelpon saya, dan di telpon dia bilang: “ Mama, jangan datang sekarang ya, teman-teman yang lain juga tidak ada yang dijenguk. Kalau mama kesini sekarang, aku malu mah. Nanti ada waktunya untuk menjenguk kok mah. Mama doakan Danty saja.”

“Iya mbak, mama akan selalu berdoa untukmu. Jaga kesehatan ya wuk, jaga diri baik-baik, jangan lupa sholat.”

“Iya mah, insya Allah.” Jawabnya.

Lalu, kabar yang menggembirakan dan mengharukan pun datang mengunjungi rumah kami, bahwa anakku Danty terpilih menjadi pembawa Bendera Pusaka. Sujud syukur langsung aku kerjakan, bersyukur dan berterima kasih atas segala karunia dan terpilihnya Danty menjadi pembawa Bendera Pusaka pada upacara kenegaraan memperingati hari kemerdekaan yang ke-45 bangsa Indonesia.

Hari yang kita nantikan pun datang. Sepanjang upacara berlangsung tidak henti-hentinya saya berdoa agar Danty diberi kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan upacara sampai selesai. Pada saat dia menaiki tangga, saya tak berani menatapnya, takut tak dapat menahan derai air mata, yang telah saya coba tahan dari tadi.Sebentar lagi Danty Rukmana (nama lengkapnya Danty Indriastuty Purnamasari Rukmana), siswa SMA dari DKI, menerima bendera pusaka dari Presiden ke-II Republik Indonesia.

“Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

Digahayu Indonesia.
Jayalah Bangsaku, Jayalah Negeriku, Jayalah Indonesiaku.
M E R D E K A !!!!!!!!

Jakarta 17 Agustus 2018.
Pukul 05.00, Usai subuh.

Artikel ini telah tayang di Tribunsumsel.com dengan judul Kisah Cucu Soeharto Ikut Seleksi Paskibra, Tutupi Identitas Hingga Tak Mau Dijenguk Orangtua, http://sumsel.tribunnews.com/2018/08/17/kisah-cucu-soeharto-ikut-seleksi-paskibra-tutupi-identitas-hingga-tak-mau-dijenguk-orangtua?page=all.

IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:

Editor: ekoprasetyo
Sumber: Tribun Sumsel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved