Cerita Pengibaran Bendera Pertama di Bungo, Takbir Tiga Kali Lalu "Merdeka"

Husni Soleh (79) membuka-buka dokumen lamanya. Mulai dari foto dan daftar nama perintis kemerdekaan Indonesia di Muara Bungo.

Dok. Kompas
Upacara penaikan bendera sang merah putih di halaman gedung pegangsaan timur 56 (Gedung Proklamasi). Tampak antara lain Bung Karno, Bung Hatta, Let,Kol. Latief Hendraningrat (menaikkan bendera) Ny. Fatmawati Sukarno dan Ny.S.K Trimurti. 

Laporan Wartawan Tribun Jambi Jaka HB

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Husni Soleh (79) membuka-buka dokumen lamanya. Mulai dari foto dan daftar nama perintis kemerdekaan di Muara Bungo di meja resepsionis Hotel Katayo kawasan Pasar Bawah Muara Bungo.

Husni Soleh sendiri adalah anak Muhammad Saleh Yasin, Panglima Laskar Jihad Fisabilliah tahun 1938, Tanah sepenggal Lubuk Landai. Dia mengatakan Saleh Yasin adalah juru tulis BPK atau Badan Penjaga Keamanan (BPK) Bungo.

BPK sendiri dibentuk dari tanggal 15 Agustus. Menurut Husni memang dibentuk untuk merintis kemerdekaan. Keinginannya membawa pada dokumen-dokumen seperti nama dan foto bangunan yang digunakan saat kemerdekaan.

Husni ingin sekali melakukan napak tilas proses pengibaran bendera pada 17 Agustus 1945 di Bungo.

"Pada jam 10 pagi pengumuman kita dapat dari Bukittinggi, sorenya selepas salat Jumat jamaah berkumpul bersama 35 perintis kemerdekaan," katanya.

Dia mengatakan waktu itu juga hari Jumat. "Tapi bulan puasa," katanya.

"Jadi dari tanggal 15 dan 16 itu persiapan dan pembentukan BPK dan tanggal 17-nya langsung setelah dapat kabar dari Radio Marcom," katanya sambil tangannya mencontohkan pengetikan radio yang semacam telegram itu.

Badarudin Yahya sebagai ketua BPK diangkat menjadi perintis kemerdekaan Bungo. Badarudin bersama 35 rekannya mengadakan rapat di markas pemuda. Markas pemuda kini sudah dirombak habis menjadi museum yang tidak juga difugsikan. Tidak ada lagi puing-puing atau tanda peninggalan sejarah perintis kemerdekaan di situ.

Dulu baik Markas Perintis atau halaman toko tempat pengibaran bendera merah putih terbuat dari kayu dan beratap genteng dan berlantai semen.

"Dulu nama tempat pengibaran bendera itu jalan sentral. Sekarang jadi jalan merdeka. Meski pun tidak ada penanda jalan bahwa itu adalah jalan merdeka.

"Setelah bendera naik. Mereka berteriak Allahu Akbar tiga kali. Setelah itu baru merdeka.. merdeka.. merdeka!" kenang Husni Soleh.

Sumber: Tribun Jambi
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved