Hati-hati, Suhu Bumi Terasa Lebih Panas 4 Tahun Mendatang

Bahkan, kita perlu berhati-hati dengan perubahan suhu yang akan terjadi dalam empat tahun ke depan.

Editor: Deni Satria Budi
dailynewshungary.com
Ilustrasi orang mendinginkan diri akibat gelombang panas dan suhu yang tinggi. 

TRIBUNJAMBI.COM - Fenomena perubahan iklim yang terjadi saat ini cukup mengkhawatirkan. Bahkan, kita perlu berhati-hati dengan perubahan suhu yang akan terjadi dalam empat tahun ke depan. 

Menurut penelitian yang diterbitkan di Nature Communications, selama empat tahun ke depan—atau bahkan lebih— kita akan melihat fenomena suhu tinggi yang tidak wajar. Bahkan fenomena ini akan meningkatkan kemungkinan terjadinya badai tropis.

Dilansir dari Independent UK, Rabu, (15/08/2018), Florian Sevellec dan tim peneliti dari National Center of Scientific Research (CNRS) mengatakan, perubahan iklim antropogenik jelas merupakan faktor yang berkontribusi terhadap tren pemanasan global, namun ternyata ini bukanlah satu-satunya.

Baca: Pemanasan Global, Ratusan Gletser di Arktika Kanada Akan Menghilang Sepenuhnya

Bahkan rumah kaca yang sebelumnya sering kali diisukan sebagai penyebab utama dari pemanasan global ternyata tidak memiliki kaitan dengan perubahan suhu yang akan datang ini.

Diketahui, isu ini sudah meluntur sejak awal abad ke-21 yang dikenal sebagai “hiatus” pemanasan global. Pada periode tahun 1998 hingga 2013, pemanasan global mengalami “hiatus”.

Selama masa ini, perubahan suhu permukaan global melambat karena laut menyerap panas yang berlebih kemudian mendistribusikan energi ke dalam Bumi.

Baca: Ngeri, Jakarta Terancam Tenggelam Akibat Pemanasan Global

Sevellec dan tim peneliti menggunakan metode baru yang dinamakan PROCAST (PRObabilistic foreCAST), untuk memprediksi suhu permukaan global dengan melacak anomali cuaca yang menyebabkan perubahan iklim.

Melalui metode baru yang diterapkan, terlihat bentuk-bentuk baru penyebab perubahan iklim muncul lebih banyak ketimbang yang disebabkan oleh perilaku manusia.

Metode ini menerapkan penghitungan statistik untuk mensimulasikan iklim abad ke-20 dan 21 dengan menggunakan beberapa referensi database untuk menciptakan kondisi iklim saat ini dan membuat prediksi kemungkinan yang terjadi masa depan.

Baca: Pemanasan Global Bisa Bikin Ular Tumbuh Sebesar Bus

Sevellec memprediksikan, suhu udara mungkin akan sangat tinggi pada 2018 – 2022. Sehubungan dengan turut meningkatnya suhu permukaan laut, ia berpendapat fenomena ini perlu mendapat perhatian khusus, karena tingginya panas—pada kondisi tertentu—dapat menyebabkan aktivitas badai tropis.

Sevellec berujar, saat ini PROCAST hanya mampu menghasilkan rata-rata keseluruhan, tetapi kedepannya ia ingin mengembangkan cara ini untuk membuat prediksi regional, memperkirakan curah hujan, dan tren kekeringan.

"Ini untuk sementara akan memperkuat tren pemanasan global jangka panjang. Periode panas berikutnya berkaitan dengan kemungkinan peningkatan suhu yang intens dan ekstrem," beber Sevellec.(*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved