Pertempuran Sengit Kampung Pareh, Kisah Pasukan Yonif Linud 328 Tewaskan 25 Pasukan Elite Inggris
Pertempuran antara pasukan Linud 328 melawan pasukan musuh yang berakibat pada tewasnya sekitar 25 personel pasukan Inggris-Malaysia
TRIBUNJAMBI.COM - Jelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-73 rakyat Indonesia penting untuk tahu bagaimana pendahulu Bangsa Indonesia mempertaruhkan nyawa mereka demi tegaknya NKRI.
Demi Indonesia para pejuang rela gugur dalam peperangan.
Satu diantara yang kembali diangkat Tribunjambi.com yakni pertempuran antara Pasukan Kostrad dari Yonif Linud 328 yang bertempur dengan pasukan Inggris di hutan Kalimantan.
Dilansir dari Intisari, sebelum Pangkostrad Mayjen Soeharto mengerahkan pasukan Kostrad untuk menumpas G30S/PKI, pasukan elit TNI AD itu sudah terasah kemampuan tempurnya melawan pasukan Belanda di Irian Barat (Papua) dan pasukan khusus Inggris (SAS) di Kalimantan Utara (Operasi Dwikora).
Prestasi bertempur melawan pasukan Inggris itu yakni ketika Operasi Dwikora dicanangkan oleh Presiden Soekarno, tidak lama setelah pasukan RI sukses melancarkan Operasi Trikora.
Baca: Bertempur di Belantara Kalimantan, Keganasan Kopassus Ini Bikin SAS dan Gurkha Jadi Korban
Tujuan utama Operasi Dwikora adalah menggagalkan negara boneka Inggris, Malaysia dan sekaligus membantu perjuangan revolusioner rakyat Kalimantan Utara.
Pasukan Kostrad yang diterjunkan adalah personil Yonif Linud 328 dengan tugas mempertahankan wilayah perbatasan, melaksanakan penyusupan, dan bertempur di wilayah Malaysia (Borneo).
Setelah menjalani latihan tempur dan mempersiapkan perbekalan, personil Yonif Linud 328 Kostrad dikirim menuju wilayah perbatasan melalui penerjunan dari udara dan melalui darat setelah sebelumnya menumpang kapal perang.
Operasi tempur Linud 328 berlangsung dari 4 Oktober 1963-1 Januari 1964.
Selain berperan sebagai pasukan penyerang personel Linud 328 karena berada di garis depan juga menjadi sasaran serangan pasukan Malaysia yang didukung oleh pasukan SAS Inggris.
Pertempuran antara pasukan Linud 328 melawan pasukan musuh yang berakibat pada tewasnya sekitar 25 personel pasukan Inggris-Malaysia adalah pertempuran sengit yang berlangsung di Kampung Pareh.
Baca: Kisah Pasukan Elit Inggris yang Disekap Kopassus Lewat Jurus Siluman di Hutan Kalimantan
Saat itu pasukan Linud 328 yang berjumlah 40 orang dan dipimpin oleh Serma M Darto sedang bertugas untuk mencari logistik yang dijatuhkan dari udara.
Tiba-tiba pasukan Linud 328 menemukan kampung yang kemudian dikenal sebagai Kampung Pareh.
Kegiatan di kampung itu tampak mencurigakan dan diyakini sebagai basis musuh.
Setelah merancang strategi yang tepat kampung itu pun diserbu sehingga terjadi pertempuran sengit dan pasukan Malysia-Inggris berhasil dihancurkan.
Meskipun pasukan Linud 328 berhasil menewaskan 25 pasukan musuh, sebanyak 2 anggota Linud 328 juga gugur.
Berkat pengalaman tempur yang dimiliki maka ketika pasukan Linud 328 diterjunkan untuk menumpas G30S/PKI, pasukan elit ini pun bisa memperoleh kemenangan dengan mudah terhadap kekuatan pro PKI.
Baca: Dari Kekaguman Kalah di Operasi Dwikora, Malaysia Bentuk Pasukan Elite yang Dilatih Kopaska
Kategori Para Raider
Dukitip dari wikipedia.org, Batalyon Infanteri Para Raider 328/Dirgahayu disingkat Yonif Para Raider 328/Dirgahayu adalah batalyon infanteri lintas udara yang berada dibawah kendali Brigif Linud 17/Kujang I, Divisi Infanteri 1/Kostrad.
Yonif Linud ini berdiri pada tanggal 16 Mei 1958 dengan personel dari eks kompi Syiwa I dan II.
Batalyon ini terdiri dari kompi A, B, C, Kompi Markas dan Kompi Bantuan.
Satuan ini bermarkas di Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat.
Kekuatan personel lebih kurang 730 anggota.
Batalyon ini masuk ke Brigif Linud 17/Kujang I Kostrad bersama Yonif Linud 305/Tengkorak dan Yonif Linud 330/Tri Dharma.
Prestasi batalyon ini antara lain menangkap Kartosuwiryo tanggal 4 Juli 1962 di Gunung Geber, Majalaya oleh Kompi C Yon 328 Kujang II/Siliwangi di bawah pimpinan Letnan Dua Suhanda.
Pasukan yang sukses membekuk Kartosuwiryo adalah Kompi C Batalyon 328 Kujang II/Siliwangi, di bawah Komandan Kompi Letnan Dua (Letda) Suhanda.
Mereka terdiri dari Peleton I dipimpin Pelda Mujiman, berangkat dari Kampung Jogo Wetan, menyusuri kali Cicaha.
Peleton II dibawah pimpinan Pelda Amir Susanto, diikuti langsung oleh Danki Letda Suhanda, berangkat dari Pamoyanan, menuju Gunung Rakutak.
Dan, Peleton III di bawah pimpinan Wadanki, Capa (Calon Perwira) Ali Sufi, berangkat dari Kawunggalek menuju Gunung Dogdog.
Mereka berangkat setelah mendapat laporan, di Kp. Pangauban Kec. Pacet, terjadi penggarongan oleh anggota DI/TII.
Upaya Kompi C tidak sia-sia. Mereka menemukan markas DI/TII di lembah Geber-Rakutak.
Di situ mereka mula-mula menangkap Aceng Kurnia alias A. Mujahid, salah seorang petinggi penting DI/TII.
Dari Aceng Kurnia, diperoleh keterangan bahwa Kartosuwiryo ada di situ, dalam keadaan sakit parah.
Penangkapan tokoh pimpinan tertingi DI/TII tidak terlalu sulit.
Pasukan yang mengawalnya tidak banyak, cuma 23 orang, dan dalam kondisi lemah pula akibat kelaparan.
Pasukan Siliwangi menyita 16 pucuk senjata.
Karena Kartosuwiryo tak mampu berjalan, terpaksa digotong di atas tandu darurat menuju Paseh.
Pada tanggal 4 Desember 2015 Prajurit Yonif Linud 328/Kostrad kini resmi menyandang sebagai pasukan Para Raider TNI AD, usai menempuh latihan selama tiga bulan, mereka secara resmi dilantik, ditandai dengan penyematan Baret dan Brievet Para Raider melalui Upacara Penutupan Latihan Pembentukan Para Raider dengan Inspektur Upacara (Irup) Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad Mayjen TNI Sudirman di Pantai Sentolo, Desa Pamalayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/yonif-linud-328-kostrad_20180806_105727.jpg)