Kasus Pencemaran Lingkungan, Masalah Sawit Dominan di Bungo

Kasus pertama terkait septi tank yang terlalu dekat dengan sumur bor. Kasus ini terjadi Kecamatan Bathin III di kelurahan Manggis.

Kasus Pencemaran Lingkungan, Masalah Sawit Dominan di Bungo
kontan
ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Jambi Jaka HB

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Dinas Lingkungan Hidup Bungo mencatat ada 5 pengaduan yang masuk terkait keluhan pencemaran lingkungan selama semester pertama 2018. Rata-rata pengaduan terkait polusi udara. Baik dari tempat tingal pribadi mau pun perusahaan.

Kasus pertama terkait septi tank yang terlalu dekat dengan sumur bor. Kasus ini terjadi Kecamatan Bathin III di kelurahan Manggis.

"Namun ini setelah diverifikasi tidak termasuk dugaan pencemaran lingkungan. Hanya melanggar azas kepatutan dalam hidup bertetangga," kata David selaku kasi pengaduan pencemaran lingkungan hidup Dinas Lingkungan Hidup Bungo, pada Minggu (29/7).

Kedua, terkait peternakam ayam yang mengeluarkan bau tak sedap dan lalat. Kasus ini. Berlokasi di Desa Mangun Harjo Kuamang Kuning.

"Setelah diverifikasi kegiatan peternakan ayam ras belum punya izin lingkungan dan operasional. Katena itu DLH menyarankan untuk mengurus izin tersebut," katanya.

Ketiga terkait asap dan bau dari pembakaran cangkang sawit. Polusi ini berasal dari pabrik pembakaran cangkang sawit di Sungai Buluh.

"Dalam pengaduan ini dilakukan rapat musyawarah antara pengelola industri pembakaran sawit, polisi dan Dinas Lingkungan Hidup Bungo. Selain itu ada pertemuan dengan DPRD Bungo juga," katanya.

"Hadilnya pengelola bersedia pindah karena lokasi terlalu dekat dengan pemukiman. Izin usaha industri itu pun dibekukan," katanya.

Pengaduan keempat pun sama dengan yang ketiga. Pengaduan kelima terkait polusi udara dan gas pabrik sawit di Dusun Sirih Sekapur, Kecamatan Jujuhan.

"Pengaduan ini diproses dengan adanya uji mutu udara di pemukiman dan verifikasi lokasi. Masyarakat resah dengan pembakaran janjangan kosong pada incenerator dan kolam IPAL yang berbatasan langsung dengan kebun masyarakat. Pagar pembatasnya rusak," katanya.

Tindak lanjutnya, kata David, pihak perusahaan bersedia untuk segera membuat pagar pengaman di sekitar lokasi IPAL," ungkapnya.

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved