Breaking News:

Hanya Dua di Dunia Badak Putih Jadi Hewan Paling Terancam di Dunia, Kini Berpeluang untuk Selamat

Para ilmuwan berhasil mengembangkan embrio hibrida badak putih utara di laboratorium untuk menyelamatkan spesies itu dari kepunahan.

kompas.com
Inilah Sudan, badak putih utara jantan terakhir di dunia. Senin (19/3/2018), tim konservasi Kenya mengonfirmasi Sudan mati akibat komplikasi penyakit yang diderita.(Daily Nation/NATION MEDIA GROUP) 

TRIBUNJAMBI.COM - Badak putih utara adalah mamalia paling terancam di dunia dan hanya menyisakan dua betina dari spesiesnya. Keduanya kini tinggal di Ol Pejeta Conservancy, Kenya.

Setelah kematian badak putih utara jantan pada Maret lalu, peneliti bergegas mencari cara demi menyelamatkan spesies ini. 

Baru-baru ini, para ilmuwan berhasil mengembangkan embrio hibrida badak putih utara di laboratorium untuk menyelamatkan spesies itu dari kepunahan.

Dalam laporan yang terbit di jurnal Nature Communications, Rabu (4/7/2018), para ilmuwan berhasil membuat embrio hibrida dari sperma badak putih utara yang telah dibekukan dan telur badak putih selatan, sub-spesies yang masih berhubungan erat dengan badak putih utara.

Embrio hibrida yang pertama kali dibuat itu dikembangkan oleh ilmuwan gabungan dari Jerman, Italia, dan Republik Ceko.

Mereka berencana untuk memanen sel telur dari dua badak betina yang masih hidup sesegera mungkin dan menggunakan sperma yang telah diawetkan untuk menghasilkan embrio badak putih utara murni.

Selanjutnya embrio ditanamkan pada ibu pengganti yang akan mengandung, yakni badak putih selatan.

Selain menggunakan embrio hibrida, para ahli juga telah merancang rencana B untuk meningkatkan pasokan telur dan melestarikan keragaman genetik badak putih utara.

Mereka berusaha menggunakan sel kulit beku dari hewan yang telah mati untuk diubah menjadi sel telur. Prosedur ini sebelumnya telah berhasil dilakukan pada tikus.

"Semoga dalam waktu tiga tahun kita sudah dapat memiliki anak badak putih (utara)," kata Thomas Hildebrandt dari Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research, Jerman yang memimpin upaya ini dilansir Yahoo News, Kamis (5/7/2018).

Halaman
12
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved