Inflasi

Besok Dirilis, Ini Ramalan Inflasi Mei dari Beberapa Ekonom

Harga sembako yang stabil berpotensi mempengaruhi inflasi Mei yang datanya akan dirilis esok. Beberapa ekonom yang dihubungi

Besok Dirilis, Ini Ramalan Inflasi Mei dari Beberapa Ekonom
tribunjambi/fitri amalia
Pada bulan ini Kota Jambi mengalami inflasi sebesar 0,63 persen dan Kota Muara Bungo inflasi sebesar 0,32 persen. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Harga sembako yang stabil berpotensi mempengaruhi inflasi Mei yang datanya akan dirilis esok. Beberapa ekonom yang dihubungi Kontan.co.id, Minggu (3/6) mengungkapkan bahwa inflasi bulan Mei berpeluang lebih rendah. 

"Inflasi bulan Ramadan atau satu bulan sebelum Hari Raya Idul Fitri pada tahun ini kami prediksi akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada tahun-tahun sebelumnya, yakni 0,33% secara bulanan atau month on month (mom) atau 3,35% secara tahunan alias year on year (yoy) dengan inflasi inti sebesar 2,78%yoy," kata Andry Asmoro, ekonom Bank Mandiri kepada Kontan.co.id, Minggu (3/6).

Baca: Polemik Setoran Zakat DKI Jakarta - Lurah Cilandak Barat Mengaku Ditargetkan Setor  Rp 138 Juta

Secara historis pada inflasi sebulan sebelum Lebaran, yakni Mei 2017 sebesar 0,39% mom atau 4,33% yoy dan pada Juni 2016 adalah sebesar 0,66% mom dan 3,45% yoy. Sedangkan inflasi satu bulan sebelum Lebaran pada Juni 2015 adalah 0,54% mom dan 7,26% yoy.

Andry menilai bahwa inflasi yang rendah pada bulan Mei ini terjadi karena stabilnya harga sejumlah komoditas pada komponen volatile food. Komponenvolatile food stabil dengan terjaganya produktivitas serta pasokan stok bahan pangan seperti beras, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.

Menurut Andry, pemerintah juga ikut andil bagian dengan menjaga lalu lintas dan distribusi pangan, manajemen stok, dan turut melakukan operasi pasar (OP) di berbagai daerah, serta penetapan harga eceran tertinggi (HET) yang dinilai cukup efektif dan berhasil dalam menjaga pergerakan dari harga pangan.

Selain itu, bergesernya waktu panen raya ke bulan April 2018 juga menjadi salah satu faktor terjaganya pasokan stok bahan pangan di bulan Ramadan tahun ini. "Di sisi administered price, kami melihat masih belum ada kenaikan harga yang berarti atau hampir tidak mengalami gejolak," kata Andry.

Baca: Juni Ini Bunga Deposito Mulai Naik, Bagaimana dengan Bunga Kredit?

Baca: MOTOGP ITALIA - Sengaja Akhiri Sesi Kualifikasi di Posisi Ke-6, Ini Alasan Marquez

Dia optimistis bahwa dengan tingkat inflasi Januari-Mei 2018 yang tetap terjaga, laju inflasi pada akhir tahun masih akan berada pada kisaran target inflasi Bank Indonesia tahun ini, yaitu 3,5% plus minus 1%. Bank Mandiri memprediksi inflasi tahun 2018 akan sebesar 3,6% yoy.

Josua Pardede, ekonom Bank Permata memperkirakan inflasi Mei akan mencapai 0,23% mom dan 3,25% yoy. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 3,41% yoy. "Penggerak inflasi bulan Mei adalah komponen volatile food dan administered prices," kata Josua.

Menurut Josua, harga komoditas pangan di bulan Mei juga meningkat seperti daging ayam, daging sapi, dan telur ayam yang ikut berkontribusi terhadap inflasi. Beberapa bahan pangan lain seperti beras, bawang putih, dan cabai ikut berkontribusi terhadap deflasi pada komponen makanan.

Josua melihat bahwa permintaan ayam dan telur cenderung meningkat selama periode puasa dan diperkirakan akan terus meningkat menjelang Hari Raya Idul Fitri 2018. Pemerintah diharapkan harus mengantisipasi dari segi pengelolaan harga pangan.

Baca: Jangan Pernah Mencoba! Inilah yang Terjadi pada Tubuh Orang yang Gantung Diri

Baca: Ekonom Nilai Laju Inflasi Mei Lebih Rendah Dibanding Lebaran Tahun-tahun Sebelumnya

"Melihat perkembangan inflasi 2018, inflasi volatile food tumbuh lebih cepat daripada inflasi headline yang menunjukkan bahwa pasokan komoditas pangan perlu ditingkatkan. Pemerintah harus lebih antisipatif dalam mengelola harga pangan terutama selama musim perayaan yang pada dasarnya terjadi setiap tahun," kata Josua

Selain itu, Josua juga menilai bahwa pada bulan Mei ini inflasi terlihat terkendali pada 2,74% yoy. Dia menambahkan, kenaikan suku bunga kebijakan BI baru-baru ini juga bertujuan untuk mengurangi dampak transmisi nilai tukar pada inflasi.

Sementara itu Pengamat Ekonomi UI Berly Martawardaya memperkirakan inflasi bulan Mei 2018 akan berkisar pada angka 0,5%-0,6% mom. "Karena pada tahun 2016 dan tahun 2017 selalu sedikit di atas 0,6%," ujar Berly.

Berly menambahkan, inflasi Mei disebabkan oleh demand pull atau meningkatnya permintaan masyarakat akan bahan pangan pangan seperti beras, daging, cabai, dan bawang. Dia menambahkan, inflasi bulan Mei belum tentu menjadi puncak inflasi sepanjang tahun 2018. "Belum tentu, karena seringkali di bulan Desember seringkali tinggi juga inflasinya," pungkas dia.

Baca: Elektabilitas Calon DPR-RI, HBA Terpopuler di Kota Jambi. di Kerinci Dikalahkan Sosok Ini

Baca: Menhub Dapat Laporan Pilot Garuda Tunda Lakukan Aksi Mogok Usai Bicara dengan Dirut

Baca: Matahari Lippo Plaza Jadi Serbuan - Ini Item Pakaian Favorit Pria Milenial dan Wanita

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved