Prasasti Talang Tuwo, Menelusuri Jejak Perkembangan Agama Budha di Kerajaan Sriwijaya

Sejarah perkembangan kota Palembang dari masa awal berdiri sampai sekarang memang tidak akan ada habisnya apabila dikaji

Prasasti Talang Tuwo, Menelusuri Jejak Perkembangan Agama Budha di Kerajaan Sriwijaya
Prasasti Talang Tuwo 

Itsing singgah di pusat Sriwijaya selama 6 bulan untuk mempelajari bahasa Sansekerta dan ajaran agama Budha (Mulyana, 2006:43). Dalam perjalanannya, ia mencatat bahwa pusat kerajaan Sriwijaya di kelilingi oleh benteng-benteng dan terdapat seribu lebih pendeta yang sedang belajar agama Budha (Codes, 2010:124).

Corak Kerajaan Sriwijaya yang memeluk agama Budha memang tidak terbantahkan apabila melihat bukti-bukti yang ada atau catatan seperti yang ditulis oleh I-tsing tentang para pendeta yang kurang lebih seribuaan pendeta berada di pusat kerajaan Sriwijaya.

Pendapat G. Coedes menjelaskan ketika I-tsing pulang dari Nalanda (India), setelah ia tinggal di Nalanda (India) selama sepuluh tahun, maka ketika Itsing pulang kembali ke Cina, ia singgah terlebih dahulu ke pusat kerajaan Sriwijaya (Fo-shih).

I-tsing tinggal di Sriwijaya kurang lebih empat tahun untuk menyalin serta menerjemahkan teks-teks Budhis dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina. Naskah-naskah yang ditulis I-tsing dari Nalanda tersebut mencapai 4.000 naskah (Mulyana, 2006:47).

Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang memang benar-benar konsen penganut yang taat agama Budha dan sekaligus pelindung agama Budha. Bukti lain mengenai permualaan munculnya kerajaan Sriwijaya tidak hanya dibuktikan dalam hal informasi yang ditulis dari pendeta Cina, tetapi bukti tersebut berasal dari dalam negeri seperti ditemukannya prasasti-prasasti yang tersebar di wilayah Palembang maupun di luar Palembang.

Sebagian besar prasasti-prasasti yang ditemukan tersebut berbahasa Melayu kuno dan berhuruf Pallawa. (Poesponegoro, 1990:53-54). Prasasti-prasasti tersebut diantaranya adalah Prasasti Kedukan Bukit (Palembang), Prasasti Talang Tuo (Palembang), Prasasti Bom Baru, (Palembang), Perasasti Telaga Batu (Palembang), Prasasti Kota Kapur (Pulau Bangka), Prasasti Karang Berahi (Jambi), Prasasti Palas Pasemah (Lampung), dan masih banyak yang lainnya.

Selain bukti prasasti-prasasti tersebut ditemukan juga oleh para arkeolog berupa fragmen, manik-manik, arca, dan keramik masa dinasti Cina yang sebagian besar semua temuan tersebut ditemukan di wilayah Palembang dan sekitarnya.

Sesuai dengan bukti dan tanggal ataupun tahun paling tua pada semua prasasti tersebut adalah Prasasti Kedukan Bukit yaitu pada tahun 682 atau abad ke-7 Masehi, sehingga memberikan bukti bahwa Palembang pada masa itu sudah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini diukir di atas sebuah batu sungai Tatang, yang ditemukan di kaki Bukit Seguntang wilayah Palembang bagian Barat. (Djavid, 1961:5).

Maksud dari prasasti tersebut menjelaskan mengenai awal mula berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Dapunta Hiyang (raja Sriwijaya) dalam mendirikan Kerajaan di Palembang, awalnya ia berangkat dari sebuah pusat kerajaan (sebelum Sriwijaya) dengan membawa tentaranya sekitar dua puluh ribuan untuk melakukan perjalanan suci (siddhayatra).

Perjalanan suci atau siddhayatra, yang dimaksud para peneliti menyatakan sebuah perjalanan dalam melakukan ekspansi, dan selanjutnya mereka menemukan tempat yang dianggap tepat dan strategis, maka Dapunta Hiyang memerintahkan tentaranya untuk mendirikan sebuah kerajaan di sekitar tepi sungai besar (Musi sekarang) yaitu di Palembang.

Mengenai dimana letak pusat awal Sriwijaya sebelum pindah ke Palembang sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan, tetapi dalam berita Cina pernah menyebutkan bahwasannya pendahulu sebelum Kerajaan Sriwijaya berdiri bernama KanTo-Li, yang letaknya juga dalam berita Cina disebutkan di sekitar wilayah Palembang sekarang (Read, 2008:78).

Ada sebagian peneliti yang menyatakan pusat awal Sriwijaya sebelum pindah di Palembang adalah di Minanga, seperti yang tertulis dalam Prasasti Kedukan Bukit. Tetapi yang dimaksud Minanga tersebut di mana lokasinya sampai sekarang juga masih menjadi perdebatan bagi kalangan sejarawan.

Kemudian setelah tahun 682 M Sriwijaya sudah berdiri dengan suka cita dan kebahagian, ditambahkan pula informasi ditemukannya Prasasti Talang Tuo di wilayah Palembang bagian Barat pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, yang isinya yaitu Dapunta Hiyang Srijayanasa memerintahkan kepada bawahannya untuk mendirikan sebuah taman srikestra namanya.

Taman yang didirikan tersebut berupa kebun, buah-buahan beraneka ragam untuk kesejahteraan semua makhluk atau masyarakat.

Pada prasasti tersebut raja Sriwijaya seakan-akan menyampaikan pesan dengan membuat sebuah prasasti yang isinya mengungkapkan harapan-harapan semoga pendirian taman ini (sriketsra) dapat menjadikan masyarakat Sriwijaya makmur dan sejahtera serta mengungkapkan harapan-harapan rasa syukur dengan doa-doa semoga semua mahluk mendapatkan ridho dan kemulyaan.

Keterangan tersebut seakan akan ingin menegaskan bahwa raja Sriwijaya yang mendirikan sebuah taman selayaknya taman kota pada masa sekarang, yang artinya pendirian taman tersebut pasti tidak jauh dengan pusat kota.

 Sesuai lokasi ditemukannya prasasti Talang Tuo di wilayah sekitar wilayah Talang Kelapa, Palembang bagian Barat yang tidak jauh dengan tepi Sungai Musi.

Dapat ditegaskan juga kalau pusat kerajaan Sriwijaya ada di Palembang dan tidak mungkin di tempatkan di luar Palembang, karena secara tatanan perkotaan juga tidak akan sesuai seperti penjelasan yang diperoleh dari prasastiprasasti di Palembang.

Artikel ini merupakan tulisan dari Nama, Brilian Didan Valentino yang merupakan Mahasiswa Arkeologi Universitas Jambi

Brilian Didan Valentino, Mahasiswa Arkeologi Unja
Brilian Didan Valentino, Mahasiswa Arkeologi Unja ()
Editor: budi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved