Prasasti Talang Tuwo, Menelusuri Jejak Perkembangan Agama Budha di Kerajaan Sriwijaya

Sejarah perkembangan kota Palembang dari masa awal berdiri sampai sekarang memang tidak akan ada habisnya apabila dikaji

Prasasti Talang Tuwo 

Bukti-bukti informasi dari luar tersebut menyatakan memang di Nusantara pada awal abad ke7 Masehi sudah berdiri sebuah kerajaan besar di Nusantara yang pusatnya sendiri menurut catatan perjalanan I-tsing, Sriwijaya berpusat di tepi sungai (Musi sekarang) wilayah Tenggara dari Melayu yaitu Palembang Sumatera Selatan.

Informasi tentang bukti munculnya Kerajaan Sriwijaya di Palembang dijelaskan dalam catatan perjalanan seorang pendeta Cina pada tahun 671 Masehi yang bernama I-tsing. Ia melakukan perjalanan bertolak dari Kanton (Cina) sekitar 20 hari maka I-tsing sampailah di pusat kerajaan Sriwijaya.

Itsing singgah di pusat Sriwijaya selama 6 bulan untuk mempelajari bahasa Sansekerta dan ajaran agama Budha (Mulyana, 2006:43). Dalam perjalanannya, ia mencatat bahwa pusat kerajaan Sriwijaya di kelilingi oleh benteng-benteng dan terdapat seribu lebih pendeta yang sedang belajar agama Budha (Codes, 2010:124).

Corak Kerajaan Sriwijaya yang memeluk agama Budha memang tidak terbantahkan apabila melihat bukti-bukti yang ada atau catatan seperti yang ditulis oleh I-tsing tentang para pendeta yang kurang lebih seribuaan pendeta berada di pusat kerajaan Sriwijaya.

Pendapat G. Coedes menjelaskan ketika I-tsing pulang dari Nalanda (India), setelah ia tinggal di Nalanda (India) selama sepuluh tahun, maka ketika Itsing pulang kembali ke Cina, ia singgah terlebih dahulu ke pusat kerajaan Sriwijaya (Fo-shih).

I-tsing tinggal di Sriwijaya kurang lebih empat tahun untuk menyalin serta menerjemahkan teks-teks Budhis dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina. Naskah-naskah yang ditulis I-tsing dari Nalanda tersebut mencapai 4.000 naskah (Mulyana, 2006:47).

Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang memang benar-benar konsen penganut yang taat agama Budha dan sekaligus pelindung agama Budha. Bukti lain mengenai permualaan munculnya kerajaan Sriwijaya tidak hanya dibuktikan dalam hal informasi yang ditulis dari pendeta Cina, tetapi bukti tersebut berasal dari dalam negeri seperti ditemukannya prasasti-prasasti yang tersebar di wilayah Palembang maupun di luar Palembang.

Sebagian besar prasasti-prasasti yang ditemukan tersebut berbahasa Melayu kuno dan berhuruf Pallawa. (Poesponegoro, 1990:53-54). Prasasti-prasasti tersebut diantaranya adalah Prasasti Kedukan Bukit (Palembang), Prasasti Talang Tuo (Palembang), Prasasti Bom Baru, (Palembang), Perasasti Telaga Batu (Palembang), Prasasti Kota Kapur (Pulau Bangka), Prasasti Karang Berahi (Jambi), Prasasti Palas Pasemah (Lampung), dan masih banyak yang lainnya.

Selain bukti prasasti-prasasti tersebut ditemukan juga oleh para arkeolog berupa fragmen, manik-manik, arca, dan keramik masa dinasti Cina yang sebagian besar semua temuan tersebut ditemukan di wilayah Palembang dan sekitarnya.

Sesuai dengan bukti dan tanggal ataupun tahun paling tua pada semua prasasti tersebut adalah Prasasti Kedukan Bukit yaitu pada tahun 682 atau abad ke-7 Masehi, sehingga memberikan bukti bahwa Palembang pada masa itu sudah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Sriwijaya. Prasasti ini diukir di atas sebuah batu sungai Tatang, yang ditemukan di kaki Bukit Seguntang wilayah Palembang bagian Barat. (Djavid, 1961:5).

Maksud dari prasasti tersebut menjelaskan mengenai awal mula berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Dapunta Hiyang (raja Sriwijaya) dalam mendirikan Kerajaan di Palembang, awalnya ia berangkat dari sebuah pusat kerajaan (sebelum Sriwijaya) dengan membawa tentaranya sekitar dua puluh ribuan untuk melakukan perjalanan suci (siddhayatra).

Perjalanan suci atau siddhayatra, yang dimaksud para peneliti menyatakan sebuah perjalanan dalam melakukan ekspansi, dan selanjutnya mereka menemukan tempat yang dianggap tepat dan strategis, maka Dapunta Hiyang memerintahkan tentaranya untuk mendirikan sebuah kerajaan di sekitar tepi sungai besar (Musi sekarang) yaitu di Palembang.

Mengenai dimana letak pusat awal Sriwijaya sebelum pindah ke Palembang sampai sekarang belum ada yang bisa memastikan, tetapi dalam berita Cina pernah menyebutkan bahwasannya pendahulu sebelum Kerajaan Sriwijaya berdiri bernama KanTo-Li, yang letaknya juga dalam berita Cina disebutkan di sekitar wilayah Palembang sekarang (Read, 2008:78).

Ada sebagian peneliti yang menyatakan pusat awal Sriwijaya sebelum pindah di Palembang adalah di Minanga, seperti yang tertulis dalam Prasasti Kedukan Bukit. Tetapi yang dimaksud Minanga tersebut di mana lokasinya sampai sekarang juga masih menjadi perdebatan bagi kalangan sejarawan.

Halaman
1234
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved