Prasasti Talang Tuwo, Menelusuri Jejak Perkembangan Agama Budha di Kerajaan Sriwijaya

Sejarah perkembangan kota Palembang dari masa awal berdiri sampai sekarang memang tidak akan ada habisnya apabila dikaji

Prasasti Talang Tuwo 

Dalam jangka waktu 24 tahun kerajaan itu sudah menjadi sangat kuat dimana sebelum ia kembali ke Cina pada tahun 695 Masehi, Kedah yang berada di pantai Barat Semenanjung Melayu Selatan telah menjadi wilayah vasal Sriwijaya.

Pada tahun 775 Masehi, kerajaan Sriwijaya telah menjadi begitu terkenal sehingga penguasanya disebut “Raja yang dipertuan dari Sriwijaya, raja tertinggi diantara semua raja di muka bumi” (Wolters, 2011:1). Dengan demikian kerajaan Sriwijaya begitu terkenal pada masa itu sebagai kerajaan yang berkuasa di laut atau penguasa maritim di Nusantara.

Kata prasasti berasal dari bahasa sansekerta, arti sebenarnya adalah “Pujian”. Tapi kemudian dianggap sebagai “Piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang atau tulisan”. Meskipun pengertian awal sebagai pujian, tidak semua prasasti memuat pujian (raja).

Sebagian besar prasasti yang dikenal untuk membuat keputusan tentang pembentukan daerah pedesaan atau daerah menjadi maju.

Prasasti merupakan sebuah peninggalan sejarah berupa batu yang bertulis tulisan kuno yang berisikan mengenai sebuah berita, informasi, peringatan, undang-undang dan yang lainnya. Prasasti Talang Tuo adalah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditemukan pada tahun 1920 oleh pejabat Inggris yaitu L.C. Westenegh, di daerah Talang Tuo (Talang Kelapo sekarang), prasasti ini dibuat pada masa raja Dapunta Hiyang Sri Jayanasa.

Prasasti ini bertanggal 2 bulan Shaitra tahun 606 Saka (684 M), yang terdiri atas 14 baris dengan berbahasa Melayu Kuno (Mahmud, 2007:24).

Secara garis besar, prasasti ini menerangkan bahwa pemerintahan baru mengeluarkan undang-undang pertama yaitu berupa pembangunan taman yang disebut Sriksetra.

Pada taman tersebut terdapat berbagai macam tanaman yang bermanfaat bagi masyarakat bumi Sriwijaya. Tujuanya ialah untuk kesejahteraan dan kemakmuran seluruh makhluk hidup di bumi Sriwijaya sehingga masyarakat sejahtera dan tentram.

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang sudah dikenal luas seluruh Nusantara maupun di luar Nusantara Prasasti Talang Tuo Peninggalan Kerajaan Sriwijaya..., Kabib Sholeh, 173-192 178 sebagai kerajaan maritim yang berkuasa di laut.

Sebelum G. Coedes menulis karangan yang fenomenal berjudul “Le Royaume de Criwijaya” yang artinya Kedatuan Sriwijaya, pada tahun 1718, E. Renaoud telah menerjemahkan naskah Arab yang berjdul “Akhbaru s-Shin wa ‘IHind” (kabar-kabar Cina dan India) yang ditulis oleh seorang musafir Arab yang bernama Sulaiman pada tahun 851 Masehi, naskah tersebut menceritakan adanya sebuah kerajaan besar di daerah Zabaj (Jawa) (Suryanegara, 2009:14).

Istilah atau kata “Jawa” yang dimaksudkan oleh orang Arab pada masa itu adalah seluruh wilayah kepulauan Indonesia saat ini. Selanjutnya pada tahun 1845, Reinaud menerjemahkan catatan Abu Zaid Hasan yang mengunjungi Asia Tenggara pada tahun 916 Masehi, dalam catatan tersebut menjelaskan bahwa maharaja Zabaj bertahta di negeri Syarbazah yang ditransliterasikan oleh Reinaud menjadi Sribuza (Suryanegara, 2009:14).

Istilah nama Syarbazah atau Sribuza yang dimaksud dalam berita dari Arab tersebut adalah Kerajaan Sriwijaya yang berkuasa, letaknya di Nusantara sekaligus penguasa maritim terbesar yang ada di Nusantara pada masa itu.

Catatan atau kronik Cina yang berasal dari abad ke-7 dan ke-8 Masehi banyak menyebutkan keberadaan sebuah negara atau kerajaan di laut Selatan yang bernama Shi-li-fo-shi (Siregar, 2010:12). Setelah melalui penelaahan yang mendalam oleh para pakar sejarah maka disepakati bahwa Shi-li-fo-shi merupakan transliterasi dari Sriwijaya (Kerajaan Sriwijaya).

Sumber-sumber berita dari negeri Cina menyebutkan keberadaan Sriwijaya berdasarkan kronik Dinasti Tang (618-902 M), kronik perjalanan pendeta Budha I-tsing (671 M), kronik Dinasti Sung (960-1279 M), kronik Ling-wai tai-ta oleh Chou Ku Fei (1178 M), kronik Chu-fan-chi oleh Chau Ju-Kua (1225 M), kronik Dinasti Ming (1368-1643 M), dan kronik Ying-yai Sheng-lan oleh Ma Huan (1416 M) (Suryanegara, 2009:15).

Halaman
1234
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved