Kerinci Punya Kekuatan Budaya yang Kuat, Budaya dari Luar Tak Bisa Berkembang

Dataran tinggi Jambi bukanlah wilayah yang sama sekali tertutup, Budayanya terus berkembang dalam sekuel masanya

Kerinci Punya Kekuatan Budaya yang Kuat, Budaya dari Luar Tak Bisa Berkembang
TRIBUNJAMBI/HERU PITRA
Dua pahatan wajah manusia ini merupakan temuan penduduk di situs kubur tempayan ditepian Danau Kerinci 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Herupitra

TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI - Sejak Selasa (22/5), Gedung Nasional Sungai Penuh disulap menjadi museum. Ruangan gedung bercat putih itu disekat-sekat sebagai tempat dipamerkannya benda-benda sejarah Kabupaten Kerinci.

Memang sejak Selasa 22 Mei hingga 26 Mei nanti, Balai Arkeologi Sumsel mengelar pameran arkeologi dataran tinggi Jambi. Tema yang mereka angkat adalah Etalase Kehidupan Lintas Masa.

Berbagai benda peninggalan masa peradaban Kerinci, mulai dari aksara incung, batu berpahat dan lain sebagainya dipamerkan. Masyarakat dan para pelajar berdatangan untuk melihat pameran tersebut.

Kepada para pengunjung peneliti arkeologi menjelaskan, dari penelitian yang mereka lakukan, dataran tinggi Jambi bukanlah wilayah yang sama sekali tertutup. Kebudayaan di dataran tinggi Jambi dapat berkembang dalam sekuel masanya. Karena memang ada pengaruh asing yang masuk.

“Hal ini jelas, mengambarkan adanya kontak-kontak budaya dengan dunia luar sejak lama,” kata Retno Purwanti peneliti Arkeologi Balai Arkeologi Sumsel.

Retno mengatakan, ini terlihat dari ditemukannya benda-benda kebudayaan India (Hindu-Buddha) yang memperkenalkan tulisan. Seperti temuan arca Buddhis Awalokiteswara dan Padmapani atau pahatan manusia pada batu larung dan batu gambar yang diduga gambaran dewa-dewa Hindia

“Bahkan keramik cina tertua juga ada ditemukan di Kerinci. Ini artinya budaya pangaruh kebudayaan hindu buddha pernah masuk kedataran tinggi Jambi,” sebutnya.

Hanya saja ujarnya, tidak membawa perubahan yang signifikan. Sebab akar kebudayaan Kerinci sangat kuat saat pengaruh ajaran Hindu dan Buddha masuk.

“Setiap ada budaya asing masuk, mereka tidak langsung menerima itu. Tapi mengolah dan menyesuaikan budaya mereka. Dulunya Kerinci punya kekuatan budaya yang kuat. Itu yang harus kita contoh sekarang,” ujarnya.

Lanjutnya, katahanan budaya Kerinci mulai berubah saat budaya Islam masuk pada abad ke 17. Kebudayaan Islam inilah yang cukup dapat berpenetrasi di bumi nan subur ini.

“Itu karena mereka menilai kebudayaan Islam banyak kesamaan dengan budaya mereka saat itu,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, bicara tentang dinamika kebudayaan di dataran tinggi Jambi khusnya Kerinci memang sangat menarik. Sehingga sebutnya, dari rangkuman yang telah mereka lakukan Balai Arkeologi Sumsel telah menerbitkan sebuah buku tentang Kerinci.

Buku tersebut diberi judul ‘Kerincimu Kerinciku’ dataran tinggi dalam perspektif arkeologi.

Penulis: heru
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved