Breaking News:

Ini Perbedaan Pemberian ASI Eksklusif di Indonesia dan Negara Lain, dan Efeknya pada Bayi

Negara-negara lain dengan modernitasnya dan kesibukan kaum wanitanya menimbulkan tanda tanya tentang frekwensi mereka

Penulis: Fifi Suryani | Editor: Fifi Suryani
KOMPAS.COM / SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM - Negara-negara lain dengan modernitasnya dan kesibukan kaum wanitanya menimbulkan tanda tanya tentang frekwensi mereka memberikan ASI kepada bayinya.

Sebaliknya kita berpikir, negara yang masih berkembang frekwensi ibu memberikan ASI kepada bayinya lebih rutin. Pasalnya mereka lebih banyak berada di rumah sebagai ibu rumah tangga, ketimbang wanita luar yang berkarir.

Baca: Dulu Seorang Jutawan, Kini Ia Tinggal di Pulau Terpencil Tanpa Air Bersih dan Listrik

Benarkah demikian? ASI merupakan susu terbaik untuk bayi karena memiliki kandungan gizi lengkap; seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, serta vitamin. Di samping itu, ASI mengandung antibodi yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan virus.

Dokter pengasuh rubrik info sehat akun klikdokter.com, dr. Dyah Novita Anggraini mengulasnya untuk Anda. Topik ini juga kembali diunggah di facebook, Sabtu (12/5).

Menurut dr. Dyah pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Bagaimana bisa?

Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar), dalam tingkat ibu menyusui eksklusif Indonesia menduduki peringkat 30 dari 33 negara Asia. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia/SDKI mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, dengan rata-rata per tahun 4 juta kelahiran, prevalensi ASI eksklusif hanya 15,3%. Angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia ini tergolong sangat rendah.

Baca: Pemkot Larang Tempat Hiburan Beroperasional Selama Puasa

Baca: Teater Kuju FIB Unja Tampilkan Pertunjukan Arwah si Jontu, Angkat Tentang Perbedaan

Menurut data yang didapat dari World Breastfeeding Trends Initiative (WBTI) pada tahun 2012, hanya 27,5% ibu di Indonesia yang berhasil memberi ASI eksklusif. Hasil tersebut membuat Indonesia berada di peringkat 49 dari 51 negara yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Tahun 2013, prevalensi menyusui hanya ASI saja dalam 24 jam terakhir pada bayi umur 6 bulan meningkat dari 15,3% pada tahun 2010 menjadi 30,2%.

"Sedangkan pada tahun 2014 Indonesia -khususnya Kementerian Kesehatan- memiliki target pemberian ASI eksklusif sebesar 80%," jelas Dyah.

Berikut perbandingan ibu menyusui ASI eksklusif antara negara Indonesia dengan negara lain. Kamboja berhasil meningkatkan tingkat pemberian ASI eksklusif untuk bayi di bawah 6 bulan secara drastis dari 11,7 persen (2000) menjadi 74 persen (2010). Togo dan Zambia juga meningkat dari 10 dan 20 persen (1990) menjadi lebih dari 60 persen (2000). Pada sisi lainnya, tingkat pemberian ASI eksklusif di Tunisia turun drastis dari 46,5 persen (2000) menjadi hanya 6,2 persen pada akhir dekade ini.

Bagaimana dengan Anda?

Baca: VIDEO: Sambut Ramadan, Gen PPJ Ajak Delete Dosa, Approve Maaf dan Hunting Pahala

Baca: Job Fair 2018- Tercatat 700 Pencaker Sudah Masukkan Lamaran, Masih Ada 900-an Posisi Lagi

Baca: Kucing Hutan dan 2 Anaknya Peliharaan Warga Legok Dilepasliarkan, BKSDA Masih Cari yang Jantan

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved