Suku ini Bisa Buat Gantungan Kunci dari Kepala Musuh-musuhnya yang Dipenggal

Jibaro atau Jivaro adalah nama dari sebuah suku Indian yang hidup di hutan-hutan belantara Equador Timur yang berbatasan dengan Columbia

Suku ini Bisa Buat Gantungan Kunci dari Kepala Musuh-musuhnya yang Dipenggal
Kepala musuh yang diciutkan dan menjadi gantungan di rumah 

Acara balas dendam tidak hanya terbatas di antara mereka saja, tetapi juga dilakukan di luar lingkungannya.

Kalau pembalasan dendam sulit dilakukan, karena musuh terlalu kuat, tetangga-tetangga terdekat dan yang dapat dipercaya diikut sertakan. Baru sekarang, dan hanya dalam keadaan yang demikian dipilih seorang pemimpin.

Biasanya yang tertua di antara mereka serta berpengalaman dalam segala urusan perang dan strateginya. Ini bisa dilihat dari banyaknya kepala manusia yang bergantungan dalam rumahnya.

Pimpinan atau panglima perang ini hanya dijabat selama operasi "serang dan bunuh" berlangsung.

Serang dan menghilang

Kesatuan atau kekompakan berperang merupakan unit dinamis yang sesungguhnya dari orang-orang Jivaro ini, terlepas dari unit statis keluarganya serta segala upacara-upacara kepercayaan yang mengelilinginya.

Mereka berkumpul seminggu sebelum melakukan penyerangan dan sesudah itu, apabila kembali dengan kemenangan, untuk merayakan hal tersebut secara besar-besaran.

Baca: Panitia Popda 2018 Evaluasi Wasit Untuk Persiapan Laga Final, Ini Kondisinya

Penyerangan dilakukan menjelang subuh, secara mendadak dan mengakibatkan kehancuran total bagi musuh.

Semuanya dibunuh, kecuali wanita-wanita muda dan anak-anak yang dianggap dapat berguna bagi keluarga.

Harta benda, biasanya tidak banyak, ternak dan tempat tinggal dimusnahkan.

Begitu misi penghancuran selesai, mereka akan segera menghilang. Sebab kalau sampai dipergoki dan tertangkap oleh patroli Guardia Civil, maka paling sedikit hukuman kerja paksa sepuluh tahun menunggu mereka.

Di tempat kejadian hanya akan dijumpai puing-puing dan mayat-mayat tak berkepala.

Betul, mayat tak berkepala! Karena obyek utama dari penyerangan adalah kepala musuh.

Adalah merupakan kebanggaan setiap kesatria Jivaro untuk kembali ke rumah dengan paling tidak sebuah kepala; lebih banyak, lebih- baik tentunya. Sebab akan makin naik martabatnya.

Baca: Dinikahi Perwira TNI Berpangkat Mayjen, Ternyata Begini Hubungan Bella Saphira dengan Anak Tirinya

Kalau di kita seperti piagam penghargaan atau tanda jasa, kira-kira begitu.

Selama kaum laki-laki pergi berperang, para wanita berkumpul tiap malam dalam sebuah rumah, untuk melakukan upacara-upacara berupa pembacaan mantera-mantera yang diselingi dengan tarian-tarian.

Pada kesempatan ini, para penari melilitkan serangkaian kulit keong pada pinggang hingga menimbulkan bunyi yang sangat berisik.

Tarian perang wanita-wanita Jivaro ini dipercayai akan melindungi suami, ayah dan putra-putra mereka dari senjata-senjata musuh serta melengahkan kewaspadaannya terhadap bahaya yang mengancam.

Tsantsa

Kepala musuh yang telah dipenggal, diawetkan dan diolah secara khusus sehingga menyusut sebesar kepalan tangan.

Sampai saat ini, akhli-akhli kimia modern masih bingung memikirkan formula penyusutan yang hak patent-nya dimiliki oleh suku Jivaro.

Kepala manusia yang telah menyusut demikian dalam bahasa Jivaro disebut "tsantsa", dan pengolahannya bisa memakan waktu tiga sampai enam bulan.

Sampai disini pengolahan secara phisik selesai, tinggal lagi mengolahnya secara mistik atau pengolahan religius.

Orang Jivaro percaya bahwa jiwa orang yang telah dipenggal kepalanya ini, tetap berada dekat "tsantsa".

Bila jiwa ini dapat dikuasai, maka ia akan merupakan kekuatan yang berguna bagi perkembangan keluarga, perburuan dan semua kegiatan yang dilakukan oleh pemiliknya.

Usaha untuk menguasai jiwa tadi dilakukan pada waktu "pesta kemenangan", dan ini dapat berlangsung berhari-hari.

Baca: Festival Kuliner Jambi Youth Corner Akan Digelar di Tugu Keris Sigenjai, Ayo Datang!

Perayaan kemenangan

Setelah "tsantsa" betul-betul menyusut dan tidak dapat lebih kecil lagi, dibuatlah persiapan untuk merayakan kemenangan atas musuh, baik secara phisik maupun secara spirituil. Untuk ini semua orang diundang.

Mereka makan, minum dan menari sementara yang empunya hajat sibuk dengan segala jampi-jampi untuk menguasai jiwa "tsantsa"-nya. Sebagian besar dari perayaan ini terdiri dari tari menari  dan pengucapan mantera-mantera.

Sangatlah sulit untuk menggambarkan secara keseluruhan dan mendetail jalannya perayaan.

Dua upacara terpenting dicatatkan di sini yaitu; yang dilakukan untuk mendapatkan kemujuran dalam perburuan, dan satu lagi berhubungan dengan perkembangan keluarga.

Pada upacara pertama di atas semua perempuan dan laki-laki membuat lingkaran sambil  berpegangan tangan, bergerak mengelilingi tiang utama di tengah rumah.

Mula-mula mereka bersiul nyaring untuk kemudian menyebut semua nama dari binatang-binatang yang paling mereka sukai dagingnya. Tiap nama diakhiri dengan teriakan, Hej!

Hej, hej, hej; Monyet hitam hej!; Yang abu-abu hej! Burung nuri hej! Yang buntutnya panjang hej! Babi hej! Yang gemuk hej!

Pengucapan mantera ini berlangsung kurang lebih sejam, dalam waktu mana para penari bergerak berganti-ganti ke kiri dan kanan. Setiap kali akan berganti, arah, kembali diperdengarkan  siulan nyaring sambil berteriak "Tshi, tshi, tshi", sebagai penguat mantera.

Baca: Sepulang Salat Jumat, Udin Temukan Mayat Dikerumuni Lalat, Ternyata Kapolsek Pelepat

Pada upacara kedua, jampi-jampi yang diucapkan berhubungan dengan perempuan dan kesuburannya.

Dan di tengah segala jampi dan upacara ini "tsantsa", saksi bisu yang pernah dapat berbicara, menyaksikan pasangan-pasangan yang satu persatu menghilang melakukan tugasnya untuk memperbanyak keturunan.

Pemerintah Equador telah berusaha untuk membasmi praktek-praktek ini dengan membudayakan mereka, setelah dikumpulkan di dalam "campo", desa-desa pemukiman.

Pekerjaan ini sudah kelihatan berhasil walaupun masih jauh dari memuaskan. Kebiasaan untuk tinggal berpencar-pencar dan lingkungan hidup orang-orang Jivaro, rimba belantara Mato-Grosso atau Neraka Hijau, sangatlah menyulitkan pengawasan dan pengumpulan mereka.

Bukan itu saja kesulitan yang dihadapi oleh aparat-aparat pemerintah Equador. Aksi pembudayaan ini memakan biaya sangat besar, dan Equador bukanlah negara yang dapat dikatakan kaya.

Beruntung bahwa PBB mulai menaruh perhatian sehingga dengan bantuannya, proses pembudayaan dapat dipercepat.

Selama praktek-praktek yang tak mengenal peri kemanusiaan ini masih tetap berlangsung, “tsantsa” akan tetap bertambah  menghiasi tiang-tiang rumah suku Jivaro.(*)

(Ditulis oleh Max I den Dekker, seperti pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Mei 1977)

Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Suku Ini Biasa Penggal Kepala Musuhnya, Diciutkan Lalu Dijadikan Gantungan Penghias Rumah, http://bangka.tribunnews.com/2018/05/04/suku-ini-biasa-penggal-kepala-musuhnya-diciutkan-lalu-dijadikan-gantungan-penghias-rumah?page=all.

Editor: ekoprasetyo
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved