Disebabkan Trauma Hingga Hipertensi, Mimisan Bisa Serang Anak-anak dan Orang Dewasa  

Pernakah mendengar kata mimisan sebelumnya? Mimisan yang sering orang awam bilang keluarnya darah dari hidung merupakan gejala dari suatu penyakit.

Disebabkan Trauma Hingga Hipertensi, Mimisan Bisa Serang Anak-anak dan Orang Dewasa   
shutterstock
Ilustrasi. 

Pernakah mendengar kata mimisan sebelumnya? Mimisan yang sering orang awam bilang keluarnya darah dari hidung merupakan gejala dari suatu penyakit. Dalam medis penyakit ini disebut epiktasis, dan sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari baik itu pada anak-anak, dewasa maupun orang tua usia lanjut.

Dr. Bobie Rolando T menjelaskan, epiktasis atau mimisan bisa terjadi secara tiba-tiba dan bisa berhenti dengan sendirinya, tapi ada beberapa kejadian di mana mimisan tersebut tidak bisa berhenti dan harus mendapat penanganan lebih lanjut secara medis.

“Mimisan bisa disebabkan oleh banyak faktor seperti trauma atau benturan yang keras, contohnya pada kasus kecelakaan atau terjatuh pada tempat keras yang mengenai daerah sekitar wajah,” jelasnya.

Ia menambahkan mimisan juga bisa disebabkan oleh benda asing yang masuk ke dalam hidung, karena perubahan suhu dan cuaca yang terlalu ekstrem atau bisa juga disebabkan oleh suatu penyakit seperti penyakit hipertensi, kelainan darah atau infeksi sistemik pada penyakit demam berdarah serta penyakit rhinitis dan sinusitis.

Berdasarkan Jurnal Kesehatan Andalas tahun 2012, katanya, penyebab dari epiktasis dapat dibagi atas faktor lokal dan faktor sistemik.

Yang masuk dalam faktor lokal seperti trauma nasal/hidung, obat semprot hidung/nasal spray yang digunakan secara terus menerus, terutama golongan kortikosteroid dimana dapat menyebakan epiktasis intermitten akibat kerusakan epitel kavum nasi, kelainan anatomi seperti deviasi septum.

“Faktor lokal selajutnya adalah tumor intranasal atau sinonasal, iritasi zat kimia seperti penggunaan narkotika, kokain atau pemakaian dekongestan topicalserta iritasi karena pemakaian oksigen,” jelasnya.

Sedangkan yang termasuk dalam faktor sistemik seperti efek samping penggunaan obat-obatan anti koagulan (heparin, warfarin) dan antiplatelets (aspirin, clopidogrel), juga kegagalan fungsi organ seperti uremia dan sirrosis hepatis.

“Faktor sistemik lainnya seperti artherosklerosis, hipertensi dan alcohol, juga kelainan hormonal seperti kelebihan hormon pertumbuhan,” lanjutnya.

Editor: awang
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved