Jadi Pria Terkaya di Era Soekarno dan Sumbangkan Emas Buat Tugu Monas, Teuku Markam Berakhir Tragis!

Terkait dengan ikon Ibukota DKI Jakarta, yakni Monumen Nasional (Monas) setinggi 132 meter itu dibuka untuk umum sejak 12 Juli 1975.

Teuku Markam, penyumbang emas Monas 

Berkat bantuan para konglomerat itulah KTT Asia Afrika berhasil memerdekakan negara-negara yang ada di Asia dan Afrika.

Namun sejarah kemudian berbalik.

Peran dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun perekonomian Indonesia seakan menjadi tak ada artinya di mata pemerintahan selanjutnya.

Secara sepihak ia difitnah sebagai PKI dan dituding sebagai koruptor dan Soekarnoisme.

Akibat tuduhan itu ia dipenjarakan pada tahun 1966.

Baca: Sekali Show Rp 2 Juta Prostitusi Jilid Dua, Pengakuan Germo di Aceh Ada Pejabat Jadi Pelanggan

Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa ada proses pengadilan seperti orang-orang yang tertuduh PKI lainnya.

Teuku Markam pun berpindah dari satu penjara ke penjara lain.

Pertama-tama ia dimasukkan ke tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya berpindah ke penjara Salemba, Jalan Percetakan Negara.

Tak lama ia dipindahkan lagi ke Rumah Tahanan Cipinang, lalu terakhir ia dipindah ke Rutan Nirbaya, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Pada 1972 ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Soebroto selama kurang lebih dua tahun.

Baca: Grab Akuisisi Uber, Begini Nasib Mitra Pengemudi Online Setelah Itu

Tak hanya di situ, Pemerintah Orde Baru juga merampas hak milik PT Karkam dan mengubahnya menjadi atas nama pemerintah.

Sejak itu, dan beriringan dengan jalannya waktu yang bersamaan dengan roda pemerintahan yang terus bergulir, perlahan namun pasti nama dan jasanya semakin terlupakan.

Sumber: Tribun Manado
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved