RSUD Nurdin Hamzah Sempat Kekosongan Obat, Direktur Ungkap Penyebabnya

seorang keluarga pasien mengeluhkan habisnya stock obat yang dibutuhkan keluarganya yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut.

RSUD Nurdin Hamzah Sempat Kekosongan Obat, Direktur Ungkap Penyebabnya
tribunjambi/zulkifli
Salah satu keluarga pasien di Rumah Sakit Daerah Nurdin Hamzah, Kabupaten Tanjung Jabung Timur 

Laporan Wartawan Tribun Jambi Zulkifli

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Perubahan status Rumah Sakit Umum Daerah Nurdin Hamzah menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sejak awal tahun 2018 ini bukannya membuat pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Nurdin Hamzah, Tanjung Jambung Timur menjadi lebih baik, namun Justru ini sebaliknya.

Baru-baru ini, seorang keluarga pasien mengeluhkan habisnya stock obat yang dibutuhkan keluarganya yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut.

Dengan berstatus BLUD, pihak rumah sakit bisa membeli obat untuk keperluan rumah sakit sendiri, tanpa harus menunggu pengajuan dan dianggarkan oleh Pemda.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nurdin Hamzah, dr Nasrul saat dikonfirmasi TRIBUNJAMBI.COM, pada kamis (22/3) mengatakan, pengadaan obat rumah sakit memang sekarang lebih fleksibel tapi itu tergantung lagi dari pendapatan rumah sakit.

Dan pada saat ini pendapatan rumah sakit dari fasein umum maupun dari BPJS sedang macet.

"Itu masalahnya, tapi Beberapa item obat tertentu saja, yang sering dipakai, itu yang kosong, kerena memang dipesan sedikit, habis pesan habis pesan lagi," kata Nasrul.

Selain itu, kata Nasrul, pemesanan obat membutuhkan waktu, karena harus menggunakan E-katalog. "Jadi berapa kita kekurangan itu yang kita pesan, dan disesuiakan dengan penghasilan kita. Kami juga pusing, bagaimana solusinya, karena kita tidak mendapat bantuan dana pengadaan obat lagi dari Pemda," ujarnya.

Lebih lanjut Nasrul menyebutkan, kekosongan stock obat terjadi karena, imbas jumlah pasien RSUD yang meningkat, karena telah adanya Tenaga Dokter Spesialis yang menetap di Rumah Sakit tersebut.

"Sebelumnya, Stock obat Tahun 2016 dulu kan dianggarkan pada tahun 2015, dan 2017 itu di 2016, jumlah pasien meningkat luar biasa jadi persediaan obat kurang hingga 2018 ini," ujar Nasrul.

Namun menurut Nasrul, pihaknya telah mendapatkan solusi untuk mengatasi persoalan tersebut dan menjamin persediaan obat untuk beberapa bulan ke depan aman.

"Jadi solusinya berapa pendapatan kita itu yang kita belikan obat yang memang stocknya sedikit. Selain itu, untuk mengantisipasinya kita bisa mendapat pinjaman obat dan hutang dulu, 30 hari baru bayar," pungkas Nasrul.

Penulis: Zulkifli
Editor: bandot
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved