Ketika Imlek Dilarang Soeharto, ini Sejarah Warga Tionghoa Gunakan Nama Baru Kental Akan Indonesia

Boleh dibilang, begitu orde baru berkuasa, aturan-aturan diberlakukan untuk menghapus budaya Tionghoa dari komunitas orang-orang peranakan.

TRIBUN JAMBI/CHAIRUL NISYAH
15022018_ibadah imlek 

Mungkin sampai setahun. Kedua surat itu kemudian menjadi surat paling penting bagi keluarga kami yang harus dijaga layaknya menjaga nyawa. Karena itu surat-surat tersebut oleh Ayah dibungkus plastik, sebelum akhirnya ada teknologi laminating.

Ke mana pun kami pergi dan setiap kali kami harus berurusan dengan formalitas dan legalitas.

Baca: Tidak Hanya Manusia, Kucing Juga Sering Lakukan Inses dan Kelainan Anaknya Separah ini

Kedua surat tersebut mesti ditunjukkan dan fotokopinya mesti diserahkan, beserta surat akta lahir (yang tentu masih menerakan nama asli kami) baik saat mendaftar sekolah, mengurus KTP, SIM, Paspor, atau mengurus surat-surat kontrak kerja sama, kepemilikan, dll.

Bullying dan diskriminasi

Dunia anak-anak adalah dunia yang jujur sekaligus kejam. Bullying terhadap anak-anak keturunan Tionghoa mulai biasa terjadi.

Kakak laki-laki saya, suatu hari dikeroyok oleh segerombolan anak-anak keturunan asing bukan Tionghoa, karena ia Tionghoa.

Baca: Tidak Hanya Manusia, Kucing Juga Sering Lakukan Inses dan Kelainan Anaknya Separah ini

Padahal, keluarga kami sudah biasa bergaul dengan berbagai kalangan, tak terbatas etnik Tionghoa.

Pada zaman di mana bahasa Belanda masih menjadi bahasa pergaulan yang paling umum, tamu-tamu Ayah ada yang orang Jawa, Ambon, Arab, dll. Mereka datang bertamu dan tak jarang makan bersama kami.

Halaman
1234
Editor: ekoprasetyo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved