Redupnya Zaman Kejayaan Speed Boat Pancung di Jambi

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI-ANGKUTAN sungai speed boat pancung pada zaman kejayaannya tahun 1980-1990an

Redupnya Zaman Kejayaan Speed Boat Pancung di Jambi
TRIBUNJAMBI/Afrisandy Pratama Yogi
Speedboat pancung 

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI-ANGKUTAN sungai speed boat pancung pada zaman kejayaannya tahun 1980-1990an sering wara wiri di Sungai Batanghari. Speed boat yang dikenal angkutan sungai tercepat ini biasa memenuhi rute jarak jauh, khususnya daerah Tanjung Jabung (kini Tanjab Barat dan Tanjab Timur, Red). Ada juga kala itu dipakai perusahaan-perusahaan kayu.

Seiring perjalanan waktu, dan pesatnya perkembangan teknologi serta membaiknya infrastruktur jalan darat, maka lambat laun si "pancung" kehilangan pelanggan. Karena penumpang lebih memilih naik angkutan darat sekelas bus, mini bus dan sepeda motor. Padahal zaman jayanya, tidak kurang 100-200 boat pancung yang beroperasi.

Pantauan Tribun di pelabuhan speed boat pancung Tanah Timbun belakang pasar tradisional Angso Duo, hanya ada beberapa speed pancung yang beroperasi. Ibarat kata pepatah, keberadaan boat pancung, mati segan hidup tidak mau. Pepatah itu pas disematkan melihat jumlahnya hanya hitungan jari tangan.

Dahulu speedboat pancung ramai yang nyewa dari kalangan perusahaan kayu dan plywood. Karena memang itu, dikenal dengan "zaman bekayu". Di pinggir sungai Batanghari sejauh mata memandang tampak rakit kayu gelondongan. Dan bertebaran kilang penggergajian kayu (sawmill).

"Sekarang perusahaan kayu sudah banyak yang tutup, jadi tambah lebih susah. Pendapatan makin menurun. Paling yang tinggal PT Pesut. Itupun pegawainyo lah lewat darat, banyak naik motor dan mobil pribadi," tutur Iskandar dengan wajah kecewa saat disambangi Tribun di pelabuhan Tanah Timbun, Jumat pagi (2/2)..

Untuk pemasukanpun menurun jauh menurun. "Dulu sehari bisa dapat Rp 500 ribu, sekarang lah sepi. Untuk mencari Rp 300 ribu sehari be susahnyo minta ampun," imbuh Iskandar yang mengaku punya satu boat pancung.

Sekarang masyarakat yang menggunakan alat transportasi speedboat pancung tak sebanyak dulu lagi. "Kini paling cuma tinggal 10 speedboot pancung yang beroperasi di Sungai Batanghari. Itupun terkadang tidak nambang semua," tandasnya.

Iskandar menambahkan dari 10 yang ada paling hanya satu atau dua speedboat pancung yang berangkat. Bahkan saat Tribun melihat langsung ke lapangan, hanya terlihat satu speedboat pancung yang berlabuh.

Cepat atau lambat, Iskandar sangat sadar bahwa speed boat pancung alat transportasi air tempat ia mengais rezeki ini tidak akan bertahan lama. Karena banyak masyarakat yang sudah menggunakan jalur darat.

"Sekarang bertahan be lah dulu, lamo-lamo akan hilang mungkin. Karno orang makin sepi. Kalau lah ilang besok tepakso usaho lain. Ke kebun atau ngurus kebun orang," pungkas Iskandar. (yogi)

Editor: ridwan
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved