Hati-hati Parkirkan Dana di Mata Uang Digital. Sistem Rapuh, Pencurian Semakin Marak

Para investor agaknya harus berhati-hati memarkir dananya di mata uang digital. Sejumlah kasus pembobolan mata uang virtual membuktikan

Hati-hati Parkirkan Dana di Mata Uang Digital. Sistem Rapuh, Pencurian Semakin Marak
Metro.co.uk
Ilustrasi bitcoin 

TRIBUNJAMBI.COM, TOKYO - Para investor agaknya harus berhati-hati memarkir dananya di mata uang digital. Sejumlah kasus pembobolan mata uang virtual membuktikan bahwa investasi ini tidaklah terlalu aman. Ini pula yang membuat sejumlah bank sentral dunia melarang perdagangan bitcoin.

Paling baru, salah satu bursa mata uang digital terbesar di Jepang yakni Coincheck menyatakan telah kehilangan aset virtual senilai 46,3 miliar atau setara US$ 425 juta dalam serangan pembobolan pada jaringan mereka. Uang virtual yang dibobol adalah NEM.

Tak kepalang tanggung, CNBC melaporkan, nilai uang virtual yang hilang akibat serangan hacker tersebut mencapai hampir 90% dari nilai koin NEM koin yang sebesar 58 miliar. Serangan hacker tersebut memaksa Coincheck membekukan deposit dan penarikan untuk semua mata uang kripto kecuali bitcoin.

Baca: AirAsia Indonesia Bakal Menggelar Free Float di Kuartal II-2018, Incar Investor Strategis

Pembobolan tersebut menjadi salah satu pencurian uang digital terbesar yang pernah ada. Coincheck dalam pernyataannya menjanjikan akan membayar kembali kepada sekitar 260.000 pemilik koin NEM yang dananya lenyap. Cuma tak disebutkan waktu dan metode penggantiannya.

Catatan saja, NEM memang tak sepopuler bitcoin. Meski begitu, mengutip situs coinmarketcap.com, mata uang kripto ini masuk daftar 10 besar uang digital dengan kapitalisasi pasar terbesar dunia. Tercatat, market cap NEM senilai US$ 9,25 miliar per Minggu (28/1). Jauh di bawah bitcoin yang memiliki kapitalisasi pasar sebanyak US$ 198,36 miliar.

Dua sumber CNBC yang mengetahui soal ini mengatakan, otoritas keuangan Jepang, Japan Financial Services Agency (FSA) telah melayangkan pemberitahuan kepada sekitar 30 perusahaan yang menjalankan bursa uang kripto mengenai kemungkinan serangan siber lanjutan. FSA meminta bursa penukaran uang digital untuk meningkatkan keamanan sistem jaringannya. "FSA juga menimbang untuk menjatuhkan sanksi administratif bagi Coincheck," ujar sumber tersebut.

Sejak April 2017, Jepang mewajibkan penyelenggara bursa penukaran uang kripto untuk mendaftar ke otoritas keuangan. Bagi operator yang sudah beroperasi sebelum April 2017, seperti Coincheck tetap diizinkan menawarkan layanan sambil menunggu persetujuan dari otoritas keuangan Jepang.

Baca: NEKAT! Pria Ini Tenteng Ular Piton Sambil Kendarai Motor, Ular Meronta Lalu Lilit Lehernya

Baca: Posting Sikap Seorang Gadis yang Dinilai Tak Tahu Terima Kasih. Cuitan Warganet Ini Jadi Sorotan

Pencurian tersebut semakin mencetuskan kekhawatiran keamanan bitcoin dan mata uang virtual lainnya. Terlebih ini bukan kasus pertama.

Tahun 2014 silam, bursa penukaran bitcoin terbesar Jepang Mt. Gox mengajukan kebangkrutan setelah kehilangan bitcoin senilai US$ 400 juta. Belum lama ini, bursa penukaran uang kripto Korea Selatan, Youbit, sudah ditutup pada bulan Desember 2017 lalu. Youbit mengajukan kebangkrutan setelah diretas dua kali pada tahun lalu.

Itu pula sebabnya, para pemimpin dunia yang bertemu di Davos, Swiss, pekan lalu mengeluarkan peringatan baru tentang bahaya kripto. Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Steven Mnuchin, misalnya, mengingatkan kekhawatirannya tentang uang digital akan banyak digunakan untuk aktivitas terlarang.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved