Sudah Yakin dan Siap Anda Untuk Menikah? Simak Cerita Berikut
"Kapan nih diresmikan? Kok dari dulu pacaran aja? Nanti bakalan cepet capek nemenin anak main bola lho... Ha..ha..ha!"
TRIBUNJAMBI.COM - "Kapan nih diresmikan? Kok dari dulu pacaran aja? Nanti bakalan cepet capek nemenin anak main bola lho... Ha..ha..ha!"
Anda pasti bosan mendengar pertanyaan ini, apalagi saat sedang di acara keluarga besar atau lagi hang out dengan sahabat.
Akhirnya Anda cuma bisa tersenyum simpul. Belum lagi kekasih yang jadi awkward karena komentar teman-teman.
Baby (30), misalnya. Ia dan Romi (33), sudah 6 tahun bersama. Keduanya sudah dewasa. Sudah bekerja, dan orang tua keduanya pun merestui.
Baca: Zumi Zola Turun ke Lokasi Kebakaran di Pasar Baru Sungai Penuh, Ini yang Diberikan untuk Korban
Baca: Azan Berkumandang, Wasit Inggris ini Setop Pertandingan Bola Sementara
Tapi, meski pernah sekali-sekali tercetus, kata pernikahan tak pernah mereka bicarakan dengan serius. Walaupun saling mencintai, mereka masih asyik dengan kehidupan masing-masing. Dan tak ada yang salah dengan itu. Toh mereka juga menyadarinya.
Belum pede
Sekarang, banyak wanita yang memilih menikah di atas usia 30 tahun. Bisa jadi karena mereka sibuk mengejar karier hingga tak punya waktu untuk berpacaran. Atau pria incaran seusia mereka sudah menikah, hingga sulit mendapatkan kekasih yang seumur. Sedangkan tak banyak yang mau menikah dengan pria yang lebih muda usianya. Akhirnya, tak mudah bagi mereka menemukan pasangan yang tepat.
Atau, seperti Baby dan Romi. Pacaran sudah serius, secara mental dan finansial pun sudah siap. Lalu mau apa lagi selain menikah? Begitu mungkin pikir teman-teman dan keluarga.
Ternyata, Baby dan Romi mengaku kalau mereka masih memiliki banyak ketakutan, melihat banyak pernikahan yang akhirnya bubar jalan, alias dilanda perceraian. Mereka takut belum tentu cocok, takut pasangan tidak bisa setia, takut terkekang, dan banyak lagi. Mereka melihat menikah di zaman sekarang tantangannya jauh lebih berat, "Banyak godaan. Daripada di tengah jalan selingkuh, lalu cerai. Repot kan, ke pengadilan," kata Baby tersenyum.
Memilih tidak menikah tentu boleh saja. Apalagi jika harus menikah dengan alasan yang tidak tepat, hingga akhirnya pernikahannya bermasalah. Menikah adalah sesuatu yang serius, jangan paksakan menikah kalau memang tidak yakin.
Haruskah menikah?
Banyak memang orang memasuki pernikahan dengan alasan tidak jelas. Bahkan mereka tidak tahu alasan mereka dulu menikah. Apa ya dulu tujuannya? Ternyata, banyak orang menganggap bahwa pernikahan adalah kelanjutan dari hidup. Layaknya sekolah. Ya lulus SD berarti kelanjutannya masuk SMP, lalu SMA, kuliah, kerja, pacaran, dan akhirnya... menikah. Toh usia cukup, sudah kerja, punya pacar, dan punya ini itu.
Jadi harus tidak sih kita itu menikah? Menikah atau tidak, itu tidaklah "keharusan". Bukan pakem baku bahwa SEMUA orang pasti harus menikah. Tidak ada keharusan orang harus menikah. Hidup setiap orang adalah pilihan masing-masing. Dan jangan lupa, menikah adalah ibadah. Setiap orang jika memilih untuk menikah atau tidak harusnya karena melakukan panggilannya masing-masing di hadapan Pencipta-Nya.
Tuhan menciptakan kita sebagai mahluk sosial, karena itulah Tuhan merancang adanya pernikahan. Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri. Waktu masih muda mungkin tidak masalah, tapi di usia tertentu, kita akan merasa butuh teman hidup. Di sinilah pernikahan berperan.
Tapi lagi-lagi hal itu jangan dianggap keharusan, lalu menikah membabi buta. Ada yang ketika pacaran sudah tidak merasa cocok, tapi karena sudah berpacaran bertahun-tahun, tetap memutuskan menikah. Alasannya karena sudah ditanyakan orang tua, dan sudah malas mencari pacar lagi. Pada akhirnya, menikah yang bukan karena panggilan dan bukan karena alasan yang tepat malah bisa menimbulkan banyak kesulitan di kemudian hari. Belum lagi kemungkinan pernikahannya dapat bubar karena tidak tahan menghadapi kesulitan kehidupan di masa yang akan datang.

Sesiap apa?
Namun jika Anda sudah memutuskan untuk menikah. Selamat! Jika Anda yakini bahwa ini adalah cita-cita Anda sejak lama, apalagi Anda memang mencintai pacar Anda. Namun, menikahlah dengan filosofi yang benar dan dengan keyakinan yang tepat. Yakinkah Anda sudah siap? Coba cek dulu kesiapan Anda, karena cinta saja tidak cukup, lho. Cinta tak bisa dijadikan dasar pernikahan yang merupakan komitmen seumur hidup yang butuh tanggung jawab besar.
Karena itu, sebelum menikah pastikan Anda telah memenuhi syarat berikut. Pertama, Anda dan pasangan sudah siap secara fisik, mental, emosional, finansial, dan spiritual. Dan kedua, Anda sudah benar-benar yakin menemukan pasangan yang sepadan, yang bisa menjadi teman seumur hidup. Dalam susah dan senang, serta memiliki visi yang sama dalam kehidupan.
Baca: FOTO-FOTO Penampilan Armada di Panggung Jambi Malam Ini, Keren Banget
Jika semua siap, menikah akan menjadi hal yang membahagiakan dan positif dalam kehidupan. Anda akan merasa lebih bahagia, tenang, dan memiliki tujuan hidup. Tapi jika tidak siap, menikah hanya akan menjadi bom waktu. Jadi hati-hati dengan pilihan dalam hidup kita. Salah memutuskan bisa membuat banyak penderitaan di masa datang.
Tak usah takut menjadi single, karena menjadi jomblo, bisa memiliki privilege mengerjakan apapun yang Anda suka. Anda tidak perlu membagi energi dan pikiran untuk orang lain, dan bisa fokus mengejar cita-cita.
Baca: TEREKAM Kamera Tukang Ledeng jadi Dokter Gadungan, Menipu Pasien Wanita dan Gadis Bawah Umur
Namun, jika Anda masih ragu mengambil keputusan menikah atau tidak, atau saat ini rumah tangga Anda ternyata situasinya jauh dari yang Anda bayangkan dulu, berarti Anda harus mencari bantuan dari profesional. Marriage counselor atau konsultan perkawinan adalah pilihan tepat. Tak perlu gengsi, berkonsultasi lebih dulu tentu lebih baik daripada salah mengambil keputusan, lalu menyesal, ya kan?
Because the best way to prevent the divorce is BEFORE the marriage
–– ADVERTISEMENT ––