Peserta Mandi Safar Bawa Daun Mangga, Ditulis Sebanyak 1.111 Lembar, Ini Maknanya

Ribuan warga Air Hitam Laut telah siap mandi Safar, Rabu (15/11/2017). Tak hanya warga Air Hitam Laut saja

Penulis: Muzakkir | Editor: Nani Rachmaini
TRIBUNJAMBI/EKO PRASETYO
Acara Mandi Safar di Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sady, Kabupaten Tanjung Jabung Timur telah dimulai, Rabu (15/11/2017) pagi. Wagub Fachrori yang ikut hadir, sematkan daun berisi doa. 

Laporan Wartawan Tribunjambi, Muzakkir

TRIBUNJAMBI.COM, TANJABTIM -- Ribuan warga Air Hitam Laut telah siap mandi Safar, Rabu (15/11/2017). 

Tak hanya warga Air Hitam Laut saja yang memadati pantai Babussalam itu, namun mandi Safar kali ini diikuti oleh ‎banyak warga pendatang, seperti Tanjabbar, Kota Jambi, Muaro Jambi bahkan ada beberapa warga dari Makassar.

Sebelum menceburkan diri ke laut, peserta mandi Safar ini terlebih dahulu telah membekali diri dengan daun mangga yang diikat di kepala atau di pinggang.

Daun mangga ini bukan sembarang daun, namun daun ini telah diberikan doa atau rajah oleh sesepuh atau alim ulama setempat.

Menurut kepercayaan, pemakaian Daun Mangga itu agar orang yang mandi terjaga keselamatannya dari segala gangguan baik dari gangguan binatang maupun makhluk halus.

‎Daun Mangga yang dibawa peserta merupakan daun mangga yang sudah dibaca dan ditulis dengan ayat Allah.

Penulisannya dilakukan di sebuah masjid oleh tokoh agama, pemuka masyarakat, adat dan ratusan santri dan santriwati pondok pesantren setempat.

Menurut pimpinan Ponpes Wali Peetu, H.M. As'ad Arsyad daun ini, nantinya akan diberikan kepada peserta yang hendak mandi. Daun ini akan diberikan sebelum pintu masuk tempat acara.

Tak tanggung-tanggung, jumlah daun yang ditulis para santri dan kaum ulama setempat berjumlah 1.111 lembar.

"Ini ditulis harus ganjil," katanya lagi

Dia menyebut, mandi Safar merupakan tradisi masyarakat yang telah dilestarikan oleh turun menurun.

"Ini tradisi bukan syari'at. Jadi boleh dilakukan dan boleh tidak dilakukan," katanya lagi.

Kenapa dilestarikan? Menurut dia, ini semua adalah cara masyarakat untuk mempererat tali silaturahmi antara warga dan inilah tradisi yang diwariskan oleh orangtua mereka terdahulu. (*)

Sumber: Tribun Jambi
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved