Dua Terdakwa Ilegal Logging Divonis 2 Tahun

Dua terdakwa kasus ilegal loging divonis dua tahun penjara dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jambi.

Dua Terdakwa Ilegal Logging Divonis 2 Tahun
TRIBUN JAMBI/DEDY NURDIN
Terdakwa Ali Yudin (peci putih)Dan rekannya Dwi saat menjalani persidangan kasus ilegal loging di pengadilan negeri Jambi pada Selasa (7/11/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Dedy Nurdin

TRIBUNJAMBI.COM. JAMBI - Dua terdakwa kasus ilegal loging divonis dua tahun penjara dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jambi. Sidang berlangsung pada Selasa (7/11/2017) malam.

Terdakwa adalah Ali Yudin dan Dwi Rahayu yang merupakan sopir truk ekspedisi.

Dalam amar putusan yang di bacakan Makaroda Hafat selaku ketua majelis hakim, Keduanya divonis dua tahun penjara.

"Serta senda 500 juta rupiah subsider tiga bulan kurungan penjara," ucap Makaroda Hafat membacakan putusan.

Keduanya didakwa atas kasus ilegal loging sebagai mana dalam dakwaan diancam Pidana dalam pasal 88 ayat (1) huruf a Jo Pasal 16 UU RI No. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Kedua terdakwa diamankan pada 9 Juni 2017 lalu. Saat itu kedua terdakwa mengemudikan dua truk tronton dihentikan petugas Korem 042/ Garuda Putih saat melintas di Kilometer 17 Kabupaten Bungo.

Hasil pemeriksaan ditemukan truk tronton berisi kayu jenis meranti diduga ilegal. Kayu tersebut diduga diangkut dari hasil hutan lindung di Kabupaten Tebo.

Dengan tujuan pengangkutan menuju Dawuan, Cikampek. Selanjutnya terdakwa diamankan berikut barang bukti.

"Barang buktinya yang satu 35 Meter Kubik yang satu lagi 37 Meter Kubik,"Kata Yeni, Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani perkara.

Ia menambahkan putusan hakim sudah sesuai dengan tuntutan dari sidang sebelumnya.

Sementara terdakwa Ali Yudin sempat menangis usai pembacaan sidang.

Di hadapan majelis hakim ia menyampaikan keberatan atas putusan tersebut.

Majelis hakim pun memberi kedua terdakwa waktu selama tujuh hari untuk fikir - fikir.

"Silahkan apakah mau menyampaikan keberatan atau menerima, kami beri waktu tujuh hari," kata Makaroda sebelum menutup sidang.

Penulis: Dedy Nurdin
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved