Pilot Tempur Indonesia Nyaris Tembak Jatuh Jet Tempur Australia

Timor Timur (Tim-Tim) lepas dari NKRI (Agustus 1999), militer RI dan Austrlia memang cenderung memiliki hubungan yang makin memanas.

Pilot Tempur Indonesia Nyaris Tembak Jatuh Jet Tempur Australia
TRIBUNJAMBI/ALDINO

Mengetahui bahwa kedua pesawat yang menjadi target melesat menghindar, baik Kapten Azhar maupun Mayor Henry segera menyadari jika sasaran yang sedang dikejar adalah jet tempur dan bukan helikopter.

Tanpa membuang waktu, kedua Hawk segera melesat mengejar kedua target dalam kecepatan penuh, sambil terus membututi manuver menghidar kedua jet tempur lawan.

Dalam kondisi mengejar sambil mengekor sekaligus menyiapkan gempuran rudal, dogfight sengit sebenarnya telah berlangsung di atas Pulau Roti.

Pada posisi tactical lead, Kapten Azhar terus mempertahankan manuver dogfight untuk tetap dalam posisi mengejar dan siap melepaskan rudal.

Kejaran-kejaran antara jet tempur mutakhir pun berlangsung seru hingga akhirnya kedua Hawk berada pada ketinggian 30.000 kaki.

Pada saat itulah secara visual Kapten Azhar melihat dua titik hitam (silhoutte) yang terbang secara vertikal dalam kecepatan 675 knot.

Untuk menghadapi duel rudal, Kapten Azhar dan Mayor Henry segera mengambil posisi serang, sedangkan pesawat Hawk kedua pindah ke posisi belakang untuk memberikan perlindungan.

Pada posisi mengejar itu, tembakan rudal sebenarnya sedang mendapatkan posisi yang ideal.

Tapi kedua pilot Hawk belum berani melepaskan rudal udara ke udara tanpa adanya perintah yang disetujui oleh Panglima Tertinggi (Presiden).

Dalam kondisi yang makin genting itu, tiba-tiba radar GCI memberi informasi bahwa kedua target yang berada di ketinggian 40.000 kaki sontak berbalik arah menuju kedua Hawk dalam posisi siap menyerang.

Pada saat itu kedua Hawk sedang berada dalam ketinggian 32.000 dengan posisi nose up.

Manuver kedua pesawat musuh itu sebenarnya merupakan manuver menghindari gempuran rudal sekaligus memposisikan kedua pilot Hawk terbang ke atas melawan sinar matahari.

Dalam hitungan detik kedua pesawat lawan pun terbang berpapasan melintasi kedua Hawk.

Kapten Azhar yang segera mendongakkan kepalanya ke atas melihat profil jet tempur berekor ganda pada jarak sekitar 5 mil dan kemudian terbang melesat ke arah berlawanan.

‘’F-/A-18 Hornet Australia!’’ teriak Kapten Azhar yang merasa akan segera kehilangan kedua buruannya.

Baik Kapten Azhar maupun Mayor Henry, sebenarnya merasa ‘’rugi’’ karena keduanya telah berada tepat di belakang F-18 Hornet dan siap menembak.

Sistem ACM sudah aktif, satu dari pesawat sudah dikunci dalam TD Box (penunjuk posisi target), missile lock on, tone slave.

Artinya tinggal menunggu perintah, rudal AIM-9 Sidewinder akan melesat menghancurkan target.

Kapten Azhar sebenarnya sudah mengontak komando bawah untuk meminta perintah selanjutnya, ditembak atau dilepaskan pergi.

Tapi komando bawah ternyata hanya memerintahkan : Bayang-bayangi dan identifikasi! Sayang penembakan rudal yang akan membuat peristiwa paling bersejarah itu telah lewat. Kedua jet tempur F-18 Hornet keburu kabur menuju FIR Australia.

Kedua Hawk pun memutuskan segera kembali ke pangkalan. Missi mengusir Hornet setidaknya sudah sukses tanpa insiden berdarah dan kewibawaan TNI AU sebagai penjaga ruang udara tanah air tetap terjaga.

Setelah insiden dogfight di atas Pulau Roti radar Satrad 251 terus melaksanakan pemantauan dan makin banyak menangkap pergerakan pesawat di FIR Darwin.

Malam harinya bahkan terjadi peristiwa mengejutkan karena delapan F-18 Australia terbang melintas di atas Lanud El Tari.

Penerbangan itu bisa diartikan sebagai penghormatan terhadap kesiagaan jet-jet tempur yang dikerahkan oleh Koopsau 1 dan Koopsau 2.

Atau bisa juga diartikan sebagai show of force, AU Australia yang masih penasaran karena kedua F-18 Hornet kabur setelah disergap dua elang besi yang nyaris merontokkan satu Hornetnya.

Editor: rahimin
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved