Polisi Akan Bongkar Makam Siswa SMA Budi Mulya yang Tewas Saat Bertarung Ala 'Gladiator'

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Ulung Sampurna mengatakan, kasus 'gladiator' yang menewaskan Hilarius Christian Event Raharjo siswa SMA Budi Mulya h

Polisi Akan Bongkar Makam Siswa SMA Budi Mulya yang Tewas Saat Bertarung Ala 'Gladiator'
Maria Agnes memegang foto anaknya Hilarius Christian Event Raharjo (15), siswa kelas X SMA Budi Mulya yang tewas setelah dipaksa berduel dalam ajang bom-boman. (KOMPAS.com/ Ramdhan Triyadi Bempah) 

TRIBUNJAMBI.COM - Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Ulung Sampurna mengatakan, kasus 'gladiator' yang menewaskan Hilarius Christian Event Raharjo siswa SMA Budi Mulya hingga kini masih dalam penyidikan polisi.

"Satreskrim sudah masuk buka kasus itu, seperti kita ketahui kasus ini sudah lama namun baru ada laporan lagi dari pihak keluarga sekarang," ucap Ulung kepada TribunnewsBogor.com, Senin (17/9/2017).

Menurutnya, kasus tersebut harus segera dituntaskan lantaran tergolong dalam tindakan pidana.

"Kita sudah berkoordinasi dengan pihak keuarga korban, dalam waktu dekat kita akan lakukan autopsi, dibongkar kuburannya," katanya.

Lebih jauh Ulung mengatakan, bahwa seharusnya kasus tersebut bisa langsung diungkap pasca kejadian tersebut berlangsung.

Sayangnya, pihak keluarga lebih memilih menolak dilakukan autopsi terhadap jasad korban sehingga kasus tersebut pun seolah telah selesai.

Sebab, seperti diketahui bahwa syarat agar kasus tersebut bisa dilanjutkan ke ranah hukum harus dilakukan autopsi terlebih dahulu.

"Kasus ini harus dilihat dari irang tuanya, pihak sekolah, karena kasus ini terkesan ditutupi, ketika itu polisi tahu kejadian sebernarnya satu bulan pasca kejadian," terangnya.

Sebelumnya, ibu korban, Maria Agnes menjelaskan bahwa kejadian yang menewaskan putranya, Hilarius Christian Event Raharjo itu terjadi pada akhir Januari 2016.

"Ketika itu saya menolak diautopsi sehingga kasus ini terkesan sudah selesai, walau beberapa pelaku sudah dikeluarkan dari sekolah saya ingin semua yang terlibat juga dihukum," kata Agnes.

Dia mengatakan, bukan tanpa sebab dirinya menceritakan semua kisah mengenai kematian Hila hingga memohon bantuan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Facebook.

Melalui postingan tersebut, dirinya berharap orang nomor satu di Indonesia itu bisa membantu menyelesaikan kasus pembunuhan yang menimpa putranya itu.

"Jadi kan katanya kalau tidak autopsi tidak bisa diberikan hukuman, saya orang awam, makanya saya minta kepada Pak Jokowi untuk memutuskan, karena surat pengakuan dari pelaku dan saksi itu sudah banyak, kenapa harus dilakukan autopsi, anak saya sudah cukup menderita," pungkasnya.(Mohamad Afkar Sarvika)
 

Editor: rida
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved