Harga Kelapa Turun
Harga jual kelapa saat ini mengalami tekanan yang besar. Sudah hampir sebulan harga kelapa tertekan dengan harga kelapa dari Kalimantan dan Makasar.
Penulis: Hendri Dunan | Editor: Suci Rahayu PK
TRIBUNJAMBI.COM, TUNGKAL – Harga jual kelapa saat ini mengalami tekanan yang besar. Sudah hampir sebulan harga kelapa tertekan dengan harga kelapa dari Kalimantan dan Makasar.
Sudah lebih kurang sebulan ini harga kelapa di tingkap pengumpul dan agen mulai tertekan. Hal ini jelas berdampak terhadap harga jual dari petani. Namun, demi menjaga pasar, baik petani, pengumpul dan agen besar tetap membeli kelapa walaupun mereka sudah tertekan oleh harga.
Awi, salah satu pengumpul kelapa, kepada Tribun mengatakan bahwa harga kelapa saat ini benar-benar tertekan. Pasalnya, harga kelapa dari Kalimantan, Sulawesi dan Makasar membanjiri Jakarta. Sehingga harga saat ini menjadi tertekan karena banjirnya kelapa dari beberapa daerah tersebut.
“Saat ini di Jakarta banjir kelapa dari Kalimantan, Sulawesi dan Makasar. Mau tak mau harga kelapa saat ini menjadi tertekan karena stok melimpah,”ungkap Awi, Senin (18/9).
Dikatakan Awi, bahwa harga kelapa di dari Makasar, Sulawesi dan Kalimatan hanya Rp 2000 per butir. Sementara harga kelapa dari Kuala Tungkal diharga Rp2.500 perbutir. Maka dari itu, harga kelapa dari Kuala Tungkal menjadi kalah saing.
“Pembeli dari Jakarta banyak ngambil kelapa dari Makasar, Sulawesi dan Kalimantan. Disana harga petani Rp 2000 perbutir. Sementara harga petani kita sudah diatas Rp 2300-Rp2500 perbutir,”ucap Awi.
Harga dari petani tersebut tentu akan berubah ditangan pengepul kelapa dan di agen. Sehingga ketika sampai ke pasar, harga sudah barang tentu menjadi kalah bersaing dengan harga yang murah dari ketiga daerah tersebut.
“Pengepul ambil untung cuma berani Rp 100 perbutir. Di tambah biaya transport Rp 50 rupiah perbutir,”kata Awi.
Bukan itu saja, harga kelapa jambul yang ada saat ini juga ditentukan oleh kualitas kelapa itu sendiri. Sebab, oleh mereka, yakni agen, keuntungan mereka peroleh dengan memainkan kualitas kelapa. Seperti kelapa berkualitas A-B-C. A merupakan kualitas kelapa terbaik.
“kelapa kualitas A atau B perbutir mencapai berat 7-8ons. Bila tidak terpenuhi kualitas C maka disebut kelapa BS. Itu biasanya akan dijadikan kopra,”kata Muawi.
Muawi mencontohkan bila harga diagen perbutir kelapa mencapai Rp2.700, maka harga dipetani bisa mencapai Rp2.300.
Dituturkan oleh Muawi bahwa pengepul atau penampung tidak bisa mengambil untuk banyak. Sebab, itu akan berdampak pada ada tidaknya petani yang menjual kelapa kepada mereka. Selain itu, mereka juga harus pandai-pandai menyiasati upah bongkar muat dan transportasi.
“Petani memiliki system penjualan sendiri. Ada yang menjual kelapa jambul, atau menjual gelondongan. Itu bergantung petaninya sendiri,”terangnya.
Dikatakan Awi, bahwa system penjualan kepala di tiga daerah seperti Makasar, Sulawesi, Kalimantan, bila ada kelapa yang kecil.
Dua buah dijadikan satu harga kelapa besar. Sedangkan di Tungkal, bila tidak masuk perhitungan dianggap kelapa BS dan hanya layak dijadikan koprah.
Jumalis, petani kelapa di Tanjung Jabung barat ketika dikonfirmasi membenarkan adanya penurunan harga. Ditingkat pedagang hingga ke tingkat petani. Bahkan, saat ini harga kelapa yang sebelumnya sudah diharga Rp 2000 di tingkat petani semakin tertekan diharga Rp 1800.
“Kemarin sewaktu lebaran (idul adha.red) harga sudah di Rp 2000. Kini semakin turun diharga Rp1800,”ucap Jumalis.