Hari Aksara Internasional, Ini Kata Komunitas Bara Api dan Jari Menari

Sobat muda, taukah kamu kalau 8 September 2016 diperingati sebagai International Literacy Day atau di Indonesia disebut dengan Hari Aksara Internasion

Hari Aksara Internasional, Ini Kata Komunitas Bara Api dan Jari Menari

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Nurlailis

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sobat muda, taukah kamu kalau 8 September 2016 diperingati sebagai International Literacy Day atau di Indonesia disebut dengan Hari Aksara Internasional (HAI).

Pada 17 November 1965, UNESCO memproklamasikan 8 September sebagai Hari Aksara Internasional. Hal ini dilatarbelakangi masih banyaknya individu dewasa yang buta aksara di seluruh dunia. 

08092017_buku
08092017_buku ()

Adanya HAI ini diharapkan muncul kesadaran dari para pemimpin negara dan masyarakat di seluruh dunia untuk meningkatkan kesadaran akan banyaknya individu yang buta aksara. Selain itu juga dapat muncul beragam program atau proyek yang akan memberantas buta aksara di seluruh dunia.

Suci Utami Armand , anggota dari komunitas Bersama Rangkul Anak Bermimpi (Bara Api), mengatakan memberantas buta aksara bisa dengan melalui pelaksanaan pendidikan non formal.

"Sekarangkan sudah banyak komunitas-komunitas sosial pendidikan yang anggotanya rata-rata anak muda," sebutnya.

08092017_buku
08092017_buku ()

Menurutnya pemerintah sendiri juga bisa membuat gerakan sosial pendidikan dengan merekrut anak-anak muda yang berbakat menjadi pengajar untuk buta aksara, khususnya disini untuk masyarakat ekonomi ke bawah.

"Karena kalau masyarakat ekonomi menengah keatas biasanya pendidikan mereka juga sudah lumayan tinggi," ungkapnya.

Sementara, Istiqomah Haris, anggota komunitas Jari Menari, mengatakan sebenarnya memberantas buta aksara itu perlu campur tangan pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan relawan ataupun komunitas.

"Pemerintah juga harus mengetahui kondisi masyarakatnya dengan cara mensosialisasikan ke masyarakat sendiri betapa pentingnya sekolah, pentingnya membaca, pentingnya belajar dan menuntut ilmu tiada batas usia.
Itulah gunanya birokrasi di pemerintahan," ujarnya.

Terutama di desa-desa terpencil, menurutnya, kepala desanya harus ekstra peduli terhadap kondisi masyarakatnya. Laporan dari desa dinaikkan ke tingkat atas, agar pemerintah di atas pun mengetahui kondisi disana.

Nantinya dinas terkait, apabila direspon, akan mengirimkan guru-guru atau relawan terbaik ke daerah tersebut untuk mengajarkan apa itu huruf, bagaimana cara membaca, dan lain sebagainya.

"Buta aksara sangatlah merugikan masyarakat yang lemah. Apalagi di daerah-daerah terpencil," ungkapnya.

Ia menjelaskan sering kali terjadi penipuan pindah hak tanah yang sering dikelabuhi oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Masyarakat yang tak tahu membaca tak akan tahu apa yang mereka tanda tangani dikertas yang mereka pun tak dapat menerka tulisan apa yang tertera disana.

"Pemerintah dan dinas terkait harus ekstra dalam memberantas buta aksara ini," tandasnya. 

Penulis: Nurlailis
Editor: rida
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved