500 Ekor Sapi Terserang Virus Jembrana di Muarojambi, Empat Kecamatan ini Paling Banyak

Sekira 400 hingga 500 ekor sapi bali di sejumlah wilayah di Kabupaten Muarojambi, terserang Virus Jembrana atau penyakit keringat dara

TRIBUNJAMBI/ABDULLAHUSMAN
Dinas Peternakan Batanghari temukan penyakit Jembrana pada sapi bali, Selasa (8/8) 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Zulkipli

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - Sekira 400 hingga 500 ekor sapi bali di sejumlah wilayah di Kabupaten Muarojambi, terserang Virus Jembrana atau penyakit keringat dara yang dapat menyebabkan kematian pada sapi.

Wilayah-wilayah tersebut yaitu Kecamatan Sungai Bahar, Sungai Gelam, Mestong, dan Kecamatan Marosebo.

Hal tersebut disampaikan oleh dokter hewan Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Muarojambi, Arikianto.

"Kira-kira dari awal bulan Januari sampai bulan Juli ini, mungkin lebih kurang 400-500 ekor sapi yang terkena virus Jembrana, Itupun semuanya mati. karena ada yang baru menunjukkan gejala klinis, oleh petani dijual atau dipotong karena takut mati sia-sia," ujarnya kepada TRIBUNJAMBI.COM, Rabu (9/9).

Selain itu, Arikanto juga menyebutkan, sebaiknya yang mesti di perhatikan adalah lalu lintas ternak, dari mana dan kemana yang akan dituju untuk di pelihara.

Seperti, bila terdapat sapi di wilayah tersebut harus cepat diwaspadai, dilaporkan kepada petugas agar sapi baru datang tersebut segera dicek atau diberikan vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh dari sapi tersebut.

"Karena ini merupakan tugas pokok kami, bila ada terima laporan pasti kita turun kelapangan, misalnya baru-baru ini di wilayah Rengas Bandung. Kita sudah turun untuk sevice. Itupun ternak-ternak yang belum terkena, sebagai langkah antisipasi penyebaran virus jembrana," jelasnya.

Dampak dari penyebaran virus Jembrana ini yaitu kekurangannya ketersediaan stok sapi Bali di wilayah Kabupaten Muarojambi dalam menyambut hari raya Idul Adha 1438 H/2017 M ini.

"Akan banyak kemungkinan yang terjadi akibat dampak penyakit tersebut, pertama harga sapi akan menjadi relatif lebih tinggi dari sebelumnya, yang kedua kewaspadaan dari peternak terhadap penyakit tersebut akan mempengaruhi mereka dalam pemeliharaan," Pungkas Arikianto.

Penulis: Zulkifli
Editor: bandot
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved