Dituding sebagai Komisaris Perusahaan Beras yang Palsukan Kemasan, Mantan Mentan Sebut Itu Fitnah

Kepolisian menggrebek gudang PT. Indo Beras Unggul di Bekasi. Dua anak perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (PT TPSF), PT Indo Beras Unggul

Dituding sebagai Komisaris Perusahaan Beras yang Palsukan Kemasan, Mantan Mentan Sebut Itu Fitnah
WARTA KOTA/DWI RIZKI
Satgas Pangan menggerebek gudang beras PT Indo Beras Unggul di Jalan Rengasbandung KM 60, Kelurahan Karangsambung, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Kamis (20/7/2017) sekitar pukul 21.00 WIB. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Kepolisian menggrebek gudang PT. Indo Beras Unggul di Bekasi. Dua anak perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (PT TPSF), PT Indo Beras Unggul (PT IBU) dan PT Sekses Abadi Karya Inti (PT SAKTI), diduga melakukan praktik curang dan pembohongan publik atau pemalsuan melalui bisnis beras kemasan produksinya.

Penggrebekan itu menyeret nama Mantan Menteri Pertanian Anton Apriyantono. Ia disebut duduk sebagai Komisaris Utama PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS). Anton angkat bicara mengenai hal tersebut.

Ia menegaskan tuduhan ke perusahaannya merupakan fitnah besar. "Semakin banyak yang fitnah, ini cara Allah memberikan ladang amal ibadah. Kalau yakin benar enggak ada yang ditakuti," kata Anton ketika dihubungi Tribunnews.com, Minggu (23/7/2017).

Anton mengaku tidak akan melapor balik tudingan tersebut. Ia membiarkan pengadilan akherat yang membalas fitnah tersebut.

"Biarkan saja pengadilan akherat yang akan membalasnya, semakin banyak difitnah, semakin banyak amal ibadah buat saya," kata Anton.

Sebelumnya diberitakan, penyelidikan sementara Tim Satgas Pangan, termasuk Dittipideksus Bareskrim Polri, kedua perusahaan produksi beras itu membeli gabah kering giling bersubsidi dari petani seharga Rp4.900/kg.

Angka itu jauh di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan Kementerian Perdagangan, yakni Rp3.700/kg.

"Permendag Nomor 27/M-DAG/PER/2017, di mana untuk harga acuan pembelian dipetani, gabah kering panen Rp3.700/kg, gabah kering giling Rp 4.600/kg, dan beras Rp 7.300/kg," ujar Kepala Bareskrim Polri, Komjen Ari Dono Sukmanto.

Menurut Ari, praktik tersebut membuat para petani lebih memilih menjual gabahnya kepada kedua perusahaan tersebut. Di sisi lain, praktik itu terindikasi curang dalam peraturan persaingan usaha karena membuat pelaku usaha sejenis merugi dan gulung tikar.

Halaman
12
Editor: nani
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved