EDITORIAL
Komitmen Stabilkan Harga Daging
Namun, tahun ini, pemerintah optimistis lonjakan tidak terjadi, karena ada langkah antisipasi.
SATU di antara barang kebutuhan yang harganya melonjak menjelang lebaran, yaitu daging sapi. Namun, tahun ini, pemerintah optimistis lonjakan tidak terjadi, karena ada langkah antisipasi.
Tidak bisa dimungkiri, daging sapi termasuk barang utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia, termasuk Jambi. Pada tahun‑tahun sebelumnya, lonjakan harga terjadi, lantaran permintaan pasar tinggi dan tidak diimbangin dengan persediaan yang seimbang. Selain itu, momen lebaran, di saat daya beli masyarakat naik, juga menjadi penentu. Daging sapi mencapai Rp 150 ribu per kilogram di tingkat eceran.
Tahun ini, pemerintah mencoba menekan lonjakan harga dengan mendistribusikan daging sapi beku. Tujuannya menjaga ketersediaan dan menekan harga daging tidak melejit. Dengan menjual seharga Rp 80 ribu per kilogram, bisa disebut itu merupakan daging murah.
Jumat (16/6), Dinas Pasar dan Perdagangan Kota Jambi, perwakilan Kementerian Perdagangan dan Bulog, melakukan pengecekan sembilan bahan pokok (sembako) jelang lebaran, di Pasar Tradisional Angso Duo. Itu untuk memastikan harga tetap stabil dan persediaan terpenuhi. Saat itu, daging segar masih Rp 120 ribu per Kg dan pasokan lancar.
Namun, pedagang memprediksi harga akan melejit pada H‑2 sampai H‑1 Lebaran, tembus Rp 140 ribu per kilogram. Prediksi itu berdasarkan pengalaman tahun‑tahun sebelumnya.
Terkait prediksi lejitan harga daging jelang Lebaran, Perwakilan Kementerian Perdagangan, Roby, mengungkapkan optimisme harga tetap dalam kewajaran. Ada aturan harga sembako sesuai harga eceran tertinggi (HET), sesuai Peraturan Kemendag Nomor 27/2017.
Pemerintah mencoba menjaga perimbangan harga dengan pengadaan daging beku. Komitmen itu pun dibuat Badan Urusan Logistik (Bulog), yang menyatakan siap menambah persediaan, bila terjadi kekurangan daging. Selain itu, daging beku itu pun sudah dinyatakan halal.
Namun, lepas dari itu semua, soal pilihan tentu ada preferensi konsumen. Ada tahapan‑tahapan konsumen untuk memilih, dari kesadaran produk, pengetahuan produk, kesukaan, memilih, muncul keinginan membeli dan akhirnya membeli dan mengonsumsi. (*)