EDITORIAL

Ancaman Banjir di Lapas

Kasus Selasa malam itu adalah kasus besar yang tercatat terjadi di Lapas IIA Jambi ini. Dua kasus besar lainnya pada 2017 terjadi pada Maret....

Editor: Duanto AS

SELASA (13/6) malam hingga Rabu (14/6) dini hari bisa jadi menjadi malam mencekam bagi penghuni Lapas Kelas IIA Jambi. Banjir yang terus ketinggiannya terus naik membuat para narapidana resah dan takut. Mereka pun panik saat air sudah mencapai setinggi dada orang dewasa.

Derasnya air yang tak tertampung oleh drainase sekitar Lapas membuat dinding Lapas yang setinggi enam meter pun jebol. Situasi ini dimanfaatkan puluhan narapidana yang kabur, meski sebagian di antaranya akhirnya berhasil diamankan.

Kasus Selasa malam itu adalah kasus besar yang tercatat terjadi di Lapas IIA Jambi ini. Dua kasus besar lainnya pada 2017 terjadi pada Maret adalah saat kerusuhan yang disertai pembakaran bangunan di Lapas. serta pada kasus protes narapidana pada Januari lalu. Dua kasus terdahulu lantaran ketidakpuasan napidana pada kebijakan razia dan fasilitas di Lapas.

Banjir beberapa kali memang terjadi di Lapas, namun dengan ketinggian yang termasuk rendah sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran berlebih. Namun terjangan air kemarin malam sungguh di luar dugaan, yang terlihat dengan jebolnya tembok Lapas.

Situasi ini terjadi tidak lepas dari kondisi dan daya tampung lapas tersebut. Kondisi drainase yang ada di dan sekitar Lapas diperkirakan menjadi sumber dari banjir di Lapas. Masalah ini sempat diungkapkan Wali Kota Jambi pada Maret lalu, dan harapan agar masalah drainase ini bisa cepat diselesaikan.

Daya tampung lapas yang jauh melebihi ambang batasnya, semakin mempersulit upaya-upaya untuk mengatasi musibah banjir ini. Satu di antaranya mudah diperkirakan, tembok Lapas yang jebol menjadi peluang bagi para narapidana untuk melarikan diri.

Sikap tahanan yang mengambil keuntungan dalam kesempitan tidak akan pernah kita benarkan. Tapi situasi malam itu di luar perkiraan.

Kita mungkin bisa melihat, banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa tahanan khawatir, takut, atau kabur. Mungkin bisa kita mulai dengan menempatkan diri kita pada posisi mereka pada malam itu. Perasaan kita tentu akan beraduk jadi satu.

Air yang terus naik menimbulkan keresahan, rasa takut, ingat keluarga atau alasan lainnya. Tentu semua ingin selamat. Jika banjir di lokasi lain di Kota Jambi saja mengkhawatirkan kita, apalagi para tahanan yang terbatas ruang geraknya oleh jeruji. Keamanan dan jiwa terancam menjadi prioritas mereka.

Sekali lagi kita tekankan, tahanan kabur adalah salah. Karenanya, sudah semestinya mereka harus dikejar dan ditangkap kembali.Tetapi tahanan adalah juga anggota masyarakat kita yang mempunyai hak hidup. Kita juga harus memperhitungkan keamanan jiwa mereka dari ancaman dari dalam Lapas sendiri. Dalam hal ini adalah ancaman banjir besar.

Kita berharap, kasus ini semakin mempercepat pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk memperbaiki kondisi di dalam Lapas. Masalah drainase terbuka menjadi prioritas. Kita berharap rencana untuk membuat saluran bawah tanah, yang akan mengalirkan air ini segera dilakukan sehingga mengurangi, atau bahkan menghapuskan ancaman banjir akibat drainase terbuka yang ada di dalam lapas.

Masalah kedua adalah mengatasi tahanan yang overcapacity. Secepatnya, jumlah narapidana disesuaikan dengan daya tampung lapas. Seperti memindahkan tahanan ke lapas-lapas lain yang ada di Provinsi Jambi.

Ketiga adalah mempercepat rencana pemerintah untuk membuat lapas baru seperti yang dijanjikan Kemenkumham beberapa waktu lalu, sehingga dapat mengatasi sebagian besar persoalan fasilitas dalam Lapas. (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved