EDITORIAL
Benahi Danau Kerinci
Danau yang terletak di wilayah Kecamatan Keliling Danau dan Kecamatan Danau Kerinci ini merupakan satu di antara 15 danau yang jadi prioritas...
DANAU Kerinci menjadi satu di antara danau yang masuk prioritas untuk dibenahi dan dikembangkan. Danau yang terletak di wilayah Kecamatan Keliling Danau dan Kecamatan Danau Kerinci ini merupakan satu di antara 15 danau yang jadi prioritas pemerintah pusat untuk dibenahi.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro yang mengatakan pentingnya pembenahan di danau yang luasnya sekitar 4.200 hektare ini.
Diprioritaskannya danau yang terletak sekitar 16 kilometer di Selatan Kota Sungai Penuh ini karena danau tersebut mengalami tingkat kerusakan kritis.
Diduga pemanfaataan danau dan kawasan sekitarnya yang kurang terkendali menyebabkan ekosistem danau mengalami degradasi yang semakin berat dari hari ke hari.
Prihatin rasanya mendengar satu diantara tempat mata pencaharian warga dan juga obyek wisata andalan Kabupaten Kerinci ini kondisinya kritis.
Beberapa tahun yang lalu sempat diberitakan kawasan di sekitar danau mengalami abrasi, permukaan danau yang mengalami kenaikan bahkan abrasi diduga juga penyebab terjadinya banjir di beberapa daerah di wilayah kecamatan Kecamatan Keliling Danau.
Abrasi juga terjadi di danau ini. Akibatnya beberapa desa di Danau Kerinci, wilayahnya sudah berkurang hingga ratusan meter, karena tebing danau yang terkikis.
Pihak BLHD Kerinci sebelumnya juga mengakui terjadi pendangkalan, meskipun begitu untuk kondisi air danau masih kategori kelas II artinya masih aman untuk dikonsumsi.
Terjadinya fenomena ikan mabuk beberapa waktu lalu yang juga sempat membuat heboh warga ditengarai karena kondisi danau yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Pengaruh hujan lebat, arus air ke danau semakin besar, kemudian danau sudah mendangkal, sehingga mendadak banyak lumpur membuat ikan mabuk.
Disamping itu, naiknya air Sungai Batang Merao, hingga menuju ke Danau Kerinci membuat air danau sedikit bercampur meski belum masuk kategori pencemaran.
Memang kerusakan di kawasan Danau Kerinci banyak faktor penyebabnya. Tanpa disadari penyebab kerusakan ini ternyata saling berkaitan dan berkesinambungan.
Pemerintah pusat melihat perlunya pengelolaan danau terpadu yang berbasis pendekatan holistik dari aspek ekonomi, sosial, budaya, tata ruang, dan lingkungan.
Lalu sebelum anggaran turun apa yang sebaiknya dilakukan? Masyarakat dan juga pemerintah sekarang ini dituntut untuk proaktif untuk melindunginya.
Melalui kearifan lokal, maupun melalui desa masyarakat bisa membuat regulasi pengelolaan lingkungannya.
Pemerintah kabupaten juga harus membuat regulasi melalui peraturan daerah untuk melindungi aset berharga mereka ini, jangan sampai kondisi Danau Kerinci menjadi rusak dan tak lagi seksi untuk dikunjungi wisatawan. (*)