Breaking News:

Dari Gadung Turun ke Beras

Sepertinya sudah keniscayaan, bahwa banyak perubahan yang mengiringi Suku Anak Dalam (SAD). Tak terkecuali bagi komunitas muslim SAD

Penulis: Jaka Hendra Baittri | Editor: Nani Rachmaini
TRIBUNJAMBI/JAKA HENDRA BAITTRI
Anak-anak komunitas muslim SAD di Desa Pelempang, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muarojambi 

TRIBUNJAMBI.COM - Sepertinya sudah keniscayaan, bahwa banyak perubahan yang mengiringi Suku Anak Dalam (SAD). Tak terkecuali bagi komunitas muslim SAD di Desa Pelempang, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muarojambi yang secara geografis lokasinya berdekatan dengan Kota Jambi.

Pangan pokok mereka pun berubah. Namun, perubahan itu bukan semata didominasi perubahan keyakinan, tapi juga alam yang semakin digerus manusia dan pemodal kelapa sawit juga karet.

Mangku Herman mendatangi kami dan menyalami satu per satu. Dia duduk bersila. Tanpa baju, hanya bercelana pendek berwarna gelap. Dia adalah Pemangku Adat Pengeratan, membawahi kawasan Sakaladi dan Lubuk Kayu Aro.

“Yang asli nian di sinilah. Dakdo campuran,” katanya pada Tribun, Sabtu (13/5).

Dia kemudian membakar rokok kreteknya. Sementara itu televisi di salah satu sudut rumahnya menayangkan berita tentang demonstrasi saat Mei 1998. Kemudian channel berpindah ke film kartun.

Pada sisi dinding yang lain terdapat foto-foto Mangku Herman bersama istri dan foto anak Mangku Herman dalam ukuran yang berbeda. Sesekali Mangku Herman membuang abu rokok melalui celah lantai kayu rumah panggungnya.

Dia mengatakan di kawasan Sakaladi itu hanya ada 15 kepala keluarga (KK). Sudah sejak sekitar 10 tahun belakangan mereka menetap di sana. Bagi Mangku Rahman lebih enak kondisi sekarang. Sebab makanan tidak lagi cari di hutan, sebab juga hutan telah habis.

Mangku Rahman menceritakan bahwa sebelum hutan habis dan sebelum mereka ikut-ikutan makan nasi, mereka memakan gadung. Itu semacam ubi beracun. Namun, di tangan SAD setempat, ubi tersebut dapat diolah sampai tidak lagi beracun.

Mereka sering menemukannya di hutan dahulu. Selain gadung ada pula buah-buahan yang melimpah di hutan. Namun, semakin banyak kebun sawit dan karet, semakin banyak pendatang, maka beriring pula dengan hilangnya sumber makanan mereka di hutan.

“Dulu banyak juga buah-buahan di hutan. Sekarang udah jarang. Udah jadi sawit dan karet galo (semua),” timpalnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved