EDITORIAL

Mau ke Mana Usai Lulus

Karena kelulusan ditentukan pihak sekolah, kemungkinan, sehari setelah pengumuman pihak dinas baru mengetahui persentasenya. Namun, lepas dari itu,

Editor: Duanto AS

KEMARIN merupakan waktu pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) 2017 untuk SMA/SMK/MA. Meski belum mendapatkan persentase kelulusan dari 31.099 siswa dari SMA/MA dan 13.189 siswa SMK yang mengikuti UN berbasis komputer dan tulis, namun Dinas Pendidikan Provinsi Jambi optimistis 100 persen lulus.

Karena kelulusan ditentukan pihak sekolah, kemungkinan, sehari setelah pengumuman pihak dinas baru mengetahui persentasenya. Namun, lepas dari itu, sikap positif ini patut mendapat apresiasi. Pasalnya, meski sempat ada kendala dalam pelaksanaan karena listrik dan banjir, dukungan seperti itu dapat meningkatkan psikologis anak didik.

Konvoi dan aksi corat-coret pun sudah berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pihak dinas sudah mengeluarkan larangan konvoi dan imbauan seragam putih abu-abu disumbangkan untuk yang membutuhkan.

Namun, yang paling utama, setelah menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas, apa yang harus dilakukan?

Dalam tataran praktis, ada beberapa kemungkinan. Memasuki dunia kerja, melanjutkan jenjang lebih tinggi atau pilihan lainnya? Determinan pilihan itu tentunya harus dengan kesadaran dan menyesuaikan kondisi masing-masing siswa.

Di balik pilihan itu, perlu diingat juga, sebenarnya hak masyarakat tentang pendidikan tertuang di Pasal 31 ayat (1) UUD 1945, disebutkan tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.

Nah, untuk kondisi Jambi, dari puluhan ribu lulusan SMA/SMK itu, tidak mungkin semuanya tertampung di kampus-kampus yang ada di dalam provinsi. Tawaran kuliah dari kampus di luar Jambi, "menggiurkan". Banyak siswa yang sudah mengincar, bahkan jauh sebelum lulus. Tentu, itu ada pertimbangannya. Semisal kualitas pendidikan, peluang kerja dan jaringan, perkembangan lebih pesat, dan lain sebagainya.

Pilihan itu kuliah keluar Jambi, tentu memberi konsekuensi positif negatif, karena mempengaruhi SDM di dalam procinsi. Dan itu bisa menjadi bahan evaluasi bagi pemangku kebijakan di Jambi. Perlu dipetakan latar belakangnya, supaya ke depan sumber daya manusia (SDM) unggul Jambi tidak "lari" keluar.

Perlu diingat juga, pendidikan di Indonesia telah mengalami desentralisasi. Artinya, perlu menjaring kebutuhan lokal dan nilai-nilai sosial kultural. Pemerintah daerah musti pintar-pintar membaca potensi ini dan bisa mengambil peran dengan penyusunan model belajar dan kurikulum yang cocok untuk menjaga SDM. Selamat Hari Pendidikan Nasional.(*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved