EDITORIAL
Membangun Konektivitas
Dengan kondisi ini Bandara Sultan Thaha sangat percaya diri membangun potensi konektivitas dari Jambi ke kota kota besar.
INDIKATOR berkembang pesatnya suatu kota, bisa dilihat dari jumlah penerbangan di bandar udara di kota tersebut. Dan saat ini bandar udara (bandara) Sultan Thaha terus berbenah diri, mempersolek wajahnya. Ini ditandai perluasan terminal dengan apron luas yang sangat memadai.
Kondisi landasan pacu cukup baik dilihat dari permukaannya setelah dilakukan overlay. Karena memang ada perluasan landasan pacu sehingga memberikan kenyamanan bagi pengguna jasa penerbangan tatkala lepas landas (take off) maupun mendarat (landing distance).
Termasuk juga pemasangan Instrument Landing System (ILS), satu di antara peralatan radio navigasi penerbangan berfungsi memandu pendaratan. Walaupun belum digunakan secara resmi, namun ILS ini sudah layak melalui uji coba beberapa waktu lalu.
Dengan kondisi ini Bandara Sultan Thaha sangat percaya diri membangun potensi konektivitas dari Jambi ke kota kota besar. Menyusul kian bertambahnya rute baru di bandara yang lokasinya masih berada di pusat kota Jambi. Kemarin, ada penambahan rute baru oleh penerbangan Batik Air yang masih bagian Lion Group, dengan rute Cengkareng ‑ Jambi dan sebaliknya.
Total jumlah penerbangan di Bandara Sultan Thaha sekarang ada 22 penerbangan, 20 pesawat komersil dan dua perintis dilayani Susi Air ke Dabo dan Kerinci.
Penerbangan adalah satu di antara cara yang cespleng untuk meningkatkan konektivitas antar kota. Untuk mewujudkan ini pemerintah daerah mestinya harus turun tangan untuk menyukseskan terwujudnya transportasi menggunakan "burung besi" ini.
Misalnya, bila kita hendak bepergian ke Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara memakan waktu sekitar 22-24 jam dengan angkutan darat. Nah, kalau dibangun konektivitas transportasi udara langsung (direct flight) Jambi- Medan, hanya butuh waktu sekitar 1,5 jam.
Begitu juga konektivitas ke Padang, Provinsi Sumatera Barat bisa dilaksanakan, karena selama ini kedua rute itu boleh dikatakan "gemuk". Tapi konsekuensinya tentu saja mimpi buruk bagi pengusaha angkutan bus dan mobil travel khususnya Jambi-Medan maupun Jambi-Padang, kalau rute penerbangan langsung di kedua provinsi tadi terwujud.
Satu hal yang menjadi angan-angan Jambi adalah ingin mewujudkan Bandara Sultan Thaha menjadi bandara internasional. Tentu saja untuk membangun ini tak segampang membalikan telapak tangan.
Paling tidak langkah awal dengan negeri jiran seperti Malaysia dan Singapura. Arus penumpang dan barang boleh dikatakan cukup tinggi untuk tujuan kedua negara tetangga tersebut. Beberapa waktu lalu Gubernur Zumi Zola dalam pertemuan dengan perwakilan dari beberapa maskapai penerbangan di Jambi berharap semua pihak mendukung Bandara Sultan Thaha bertaraf internasional.
Keinginan luhur dari Zumi Zola adalah mimpi masyarakat Jambi juga. Tapi cikal bakal semua itu sangat bergantung sejauh mana Jambi bisa menciptakan kompetensi dalam banyak aspek di antara aspek pariwisata, perkebunan dan pertanian. Agar ada yang menjadi primadona Jambi yang dilirik calon investor. (*)