Menteri BUMN: Jangan Ragukan China di Kereta Cepat

Rini Soemarno, Menteri BUMN menyatakan, China sudah handal dalam membangun proyek kereta cepat. Termasuk, dalam

Menteri BUMN: Jangan Ragukan China di Kereta Cepat
Net

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Rini Soemarno, Menteri BUMN menyatakan, China sudah handal dalam membangun proyek kereta cepat. Termasuk, dalam membuat desain jembatan panjang dan terowongan untuk proyek tersebut.

Pernyataan tersebut dia sampaikan terkait aspek keamanan jembatan panjang dan terowongan Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung yang beberapa waktu lalu disebut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono labil. "Masalah itu pasti sudah dicek secara teknis. Mereka sudah pengalaman bangun kereta cepat yang panjangnya 20.000 kilometer, tidak perlu ragu," katanya kepada KONTAN pekan kemarin.

Basuki dalam rapat terbatas di Kantor Presiden beberapa waktu lalu mengingatkan menteri yang terkait proyek tersebut dan Presiden Jokowi, soal kondisi geologis di daerah yang akan dilintasi Proyek Kereta Cepat Jakarta- Bandung. Dia bilang kondisi tanah di daerah proyek kereta labil dan rawan, terutama untuk dibuat jembatan panjang maupun terowongan untuk kereta.

Kalabilan tersebut bisa dilihat dari kasus kelongsoran tanah Tol Cipularang yang sering terjadi di kilometer 92 atau 97 dan pergeseran Jembatan Cisomang beberapa waktu lalu. Basuki mengatakan, walau labil dan berpotensi berpengaruh terhadap aspek keselamatan, design jembatan dan terowongan kereta cepat tersebut ternyata belum mendapat sertifikasi dari Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan.

"Dan saya tanya Menteri Perhubungan apakah sudah dicek belum design-nya, ternyata belum," kata.

Arie S Moerwanto, Ketua Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum sekalipun menyentuh sama sekali design pembangunan Kereta Cepat Jakarta- Bandung. "Padahal harus kami sertifikasi dulu," katanya.

Basuki mengatakan, dalam rapat mengingatkan agar pemerintah hati- hati dalam menjalankan proyek tersebut. Menurutnya, kalau tetap dipaksakan dengan perhitungan yang belum matang, tetap memaksakan untuk melanjutkan proyek bisa berakibat tidak hanya pada keselamatan, tapi pembengkakan biaya.

Ada potensi pembengkakan biaya yang bisa terjadi, khususnya bila  komitmen pinjaman sudah ditandatangani. "Kalau kita belum siap, tanah baru 5%, RTRW belum siap, semua belum matang, kontrak tandatangan, hati- hati argo akan jalan, kami punya pengalaman di Jembatan Suramadu, pembengkakam sampai dua kali lipat, rencananya hanya Rp 2,5 triliun, tapi karena masalah kesiapan selesainya jadi Rp 2,5 triliun," katanya.

Terhadap rencana penandatanganan pinjaman tersebut, sayangnya Rini menolak berkomentar. "Nanti kalau ada konferensi pers kami sampaikan, jangan sambil jalan seperti ini, pikiran saya sudah kemana mana segala macam," katanya

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved