EDITORIAL

Apa Kabar Duku Kumpeh?

SEJARAH sepertinya berulang. Sebelum Jambi mengenal kelapa sawit (Elaeis gueenensis jacq) dan karet (Hevea braziliensi....

Editor: Duanto AS

SEJARAH sepertinya berulang. Sebelum Jambi mengenal kelapa sawit (Elaeis gueenensis jacq) dan karet (Hevea braziliensi), provinsi yang perekonomiannya di topang sektor perkebunan dan pertanian ini, lebih dulu mengenal lada (Piper nigrum). Bahkan lada di tanah Jambe juga menjadi incaran Portugis.

Sekian tahun kemudian tanaman karet dibawa ke Jambi. Berangsur-angsur kejayaan lada pun hilang. Karet pun booming sehingga pada era 1930-an dikenal zaman hujan emas di Jambi. Di masa itu petani karet di Jambi sejahtera karena karet yang jadi primadona.

Serupa tapi tak sama, kini kejadian seperti itu tengah berlangsung. Duku Kumpeh. Tanaman buah yang menjadi satu di antara kekhasan lokal Jambi terancam punah. Lalu dimana peran pemerintah melestarikan duku Kumpeh?

Ada sejumlah sebab yang membuat duku Kumpeh dalam kondisi memprihatinkan. Motif ekonomi menjadi satu di antaranya. Kelapa sawit yang lebih menjanjikan membuat petani atau warga di Kumpeh akhirnya lebih memilih mengganti tanaman duku mereka dengan sawit.

Godaan kelapa sawit tersebut juga datang dari perusahaan perkebunan kelapa sawit. Mereka mengajak warga bermitra. Walhasil, kebun duku pun beralih menjadi kebun kelapa sawit.

Persoalan lainnya adalah budidaya duku Kumpeh oleh petani yang umumnya masih secara konvensional. Belum lagi ketersediaan bibit unggul, misalnya. Petani lebih memilih menanam duku melalui generatif atau dengan menanam biji. Padahal hasilnya tak menjamin.

Duku-duku yang ada saat ini pun umumnya sudah berumur tua sehingga tak lagi produktif. Sementara upaya peremajaan seakan tak didukung dengan ketersediaan bibit unggul.

Perlu kepedulian banyak pihak agar duku Kumpeh tetap lestari. Agar legitnya bisa tetap dicicip anak cucu nanti. Akademisi misalnya, perlu melakukan penelitian agar bisa ada bibit atau varietas unggul daru duku Kumpeh.

Jangan pula dilupakan pengemasan dan pemasaran. Sehingga duku Kumpeh memang dikenal sebagai duku Kumpeh bukan sebagai duku Palembang. Kini, bola ada di tangan pemerintah. Mulai dari pemerintah provinsi hingga pemerintah daerah. Mau diapakan duku Kumpeh? (*)

Sumber: Tribun Jambi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved