Sri Rejeki Makin Rajin Cari Rejeki

Tepat di Hari Kartini tahun ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Sri Rejeki Makin Rajin Cari Rejeki
setneg/Biro Pers Setpres

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Tepat di Hari Kartini tahun ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Di sana Presiden menyambangi pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritek) di Jl KH Samanhudi No 88, Jetis, Sukoharjo.

Kunjungan itu rupanya untuk meresmikan perluasan pabrik tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara milik PT. Sri Rejeki Isman, Tbk alias Sritex . Untuk melakukan ekspansi, perusahaan ini menggelontorkan investasi sebesar Rp 2,6 triliun.

Direktur Utama Sritex Iwan Setiawan Lukminto menyatakan, perluasan bangunan pabrik tersebut merupakan bagian dari ekspansi perseroan ini di sektor garmen dan tekstil.

Dia bercerita, kesuksesan perseroan ini di industri garmen dan tekstil dimulai pada tahun 1966 yakni berupa kios kecil yang berlokasi di Pasar Klewer dengan nama UB Sri Redjeki yang didirikan oleh H.M. Lukminto.

Kemudian berlanjut dengan membangun pabrik printing di Pakubuwono Solo pada tahun 1972 hingga akhirnya menjadi perusahaan terbuka dengan berkode SRIL pada 17 Juni 2013. "Tahun 1994 Sritex dipercaya untuk memproduksi kebutuhan seragam TNI dan kepolisian," ungkap dia, Jumat (21/4).

Perseroan ini juga mendapat kepercayaan memproduksi seragam militer bagi lebih dari 35 negara di dunia. Seperti Jerman, Belanda, Swedia, dan Norwegia.

Saat ini Sritex Group bekembang secara terintegrasi dengan empat lini proses mulai spinning, weaving, finishing dan carving. Adapun hasil produksi seperti benang kain mentah, kain jadi, produk fesyen, seragam instansi pemerintahan, seragam TNI Polri serta seragam militer yang telah merambah melebih dari 100 negara.

Jangan kalah

Dengan besarnya nilai investasi, perseroan ini mampu meningkatkan produksi tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional yang merupakan industri padat karya. Sehingga dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 3.500 karyawan. "Di 2017, perseroan menargetkan memperkerjakan 50.000 karyawan," ungkap dia.

Dia menerangkan, untuk jumlah kapasitas produksi, produksi spinning mengalami kenaikan kapasitas produksi sebanyak 300.000 mata pintal, sehingga totalnya sebanyak 1,2 juta mata pintal. "Kapasitas produksi garmenawalnya 25 juta potong sekarang ditambah 14 juta potong pertahun, jadi total 39 juta potong. Weaving atau penenunan ditambah 60 juta meter per tahun, finishing bertambah 120 juta yard per tahun," terang dia.

Sedangkan kapasitas weaving yang sudah 540 juta meter kini ditambah sebanyak 60 juta meter, sehingga total jenderal menjadi 600 juta meter. Sementara kapasitas finishing yang tadinya hanya 540 juta yard per tahun, sekarang ada penambahan produksi 120 juta yard pertahun, atau menjadi 660 juta yard per tahun.

Dngan perluasan tersebut saat ini Sritex Group memiliki 24 pabrik spinning, 7 pabrik weaving, dan 11 pabrik garmen. "Karena kedaulatan sandang merupakan bagian ketahanan nasional," tambahnya.

SRIL sebagai bagian dari anggota BPJS, juga berencana membangun hunian apartemen bagi karyawan. Dengan kapasitas 10.000 karyawan.

Sementara itu Presiden Jokowi mengatakan, banyak perusahaan Indonesia yang mampu memproduksi barang dengan kualitas internasional. Salah satunya adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk yang lebih dikenal dengan Sritex. "Kita lihat Sritex. Salah satu bukti merk Indonesia yang merajai pasar dunia. Sebanyak 60% produksinya untuk pasar ekspor, ujarnya.

Jokowi juga senang dengan upaya Sritex lebih meningkatkan persaingan dengan dunia internasional. "Saya tanya, apakah kita kalah dengan tekstil Vietnam? Karena saya dengar tekstil kita kalah oleh Vietnam. Dijawab oleh Pak Iwan (Presdir Sritex), kita tidak kalah. Kita bisa bersaing dengan mereka," ungkap Jokowi.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved